Acosta juga percaya bahwa menampilkan sisi humanis di sela keseriusan balap adalah hal yang penting. Pendekatan ini dinilainya dapat meredakan ketegangan dan membangun chemistry yang baik.
"Kami mencoba, kami selalu mencoba untuk menampilkan sedikit pertunjukan. Saya pikir bagus untuk bersikap serius dan profesional, tetapi sesekali sedikit pertunjukan selalu menyenangkan," jelasnya.
Mengelola Tekanan Menuju Balapan
Sebagai pembalap yang terus naik kelas, tekanan adalah hal yang tak terelakkan. Acosta mengakui bahwa bentuk dan beratnya tekanan bisa berbeda setiap musim. Namun, dia memilih untuk memandangnya sebagai bagian dari proses yang harus dihadapi dengan kepala dingin. Kuncinya, menurut dia, adalah mengubah tekanan tersebut menjadi motivasi untuk terus berkembang.
Dengan mentalitas ini, Acosta merasa lebih siap menghadapi ritme kejuaraan yang padat. Dia yakin, begitu ritme balapan berjalan normal, segala tantangan akan lebih mudah untuk dikelola.
"Tetapi pada akhirnya, ketika sebuah balapan menjadi lebih normal, saya pikir lebih mudah untuk menghadapinya," tutup Acosta, menegaskan kesiapannya menjalani tantangan MotoGP 2026.
Artikel Terkait
PSIS Semarang Hadapi Laga Krusial Kontra Persipal Palu di Bawah Bayang-Bayang Ancaman Degradasi
Kemenangan Timnas Ungkap Potensi Duet Beckham-Romeny, Persib Diminta Pertimbangkan
Fu Haifeng, Legenda Bulutangkis China, Ternyata Berdarah Indonesia
Veda Ega Pratama Ukir Sejarah, Pembalap Indonesia Pertama Podium di MotoGP