Bazar Rakyat di Monas Bagikan Kupon Rp500 Ribu untuk Dongkrak UMKM Pascalebaran

- Sabtu, 28 Maret 2026 | 23:45 WIB
Bazar Rakyat di Monas Bagikan Kupon Rp500 Ribu untuk Dongkrak UMKM Pascalebaran

Sabtu pagi di Monas terasa berbeda. Kerumunan orang bukan hanya untuk berolahraga atau sekadar menikmati taman. Suasana riuh rendah bazar menyelimuti kawasan itu. Bazar Rakyat yang digelar hari ini, menurut Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, bukan sekadar acara biasa. Ini momentum penting, terutama untuk mendorong perputaran ekonomi para pelaku UMKM pascalebaran.

Menurut Teddy, acara ini punya dua manfaat sekaligus. Di satu sisi, masyarakat bisa mendapat hiburan. Di sisi lain, roda ekonomi rakyat bisa kembali bergerak setelah libur panjang.

"Melalui Pak Menteri UMKM, Pak Maman, dibawa ke sini, mereka jualan, kita beli barangnya," ujar Teddy di lokasi.

Ia melanjutkan, masyarakat yang datang juga diberikan kupon secara gratis. Kupon itulah yang nantinya bisa ditukarkan dengan produk-produk dari para pedagang kecil yang terlibat.

Nilai kuponnya cukup signifikan, mencapai Rp500 ribu per orang. Rinciannya, Rp300 ribu untuk sembako dan sisanya, Rp200 ribu, khusus untuk membeli aneka produk UMKM yang ada di bazar.

Namun begitu, Teddy menegaskan bahwa tujuan acara ini lebih dari sekadar bantuan sosial semata. Intinya adalah mendorong perputaran uang. "Konsepnya sebanyak mungkin masyarakat ingin merasakan kebahagiaan Lebaran," imbuhnya. Baik mereka yang tak bisa mudik, maupun yang sudah kembali ke Jakarta, diajak merasakan kebersamaan dan dampak ekonominya.

Pendapat senada datang dari Menteri UMKM Maman Abdurrahman. Ia menambahkan, kegiatan seperti ini memberikan dampak ekonomi yang nyata dan langsung terasa bagi pelaku usaha.

Momen pascalebaran sengaja dimanfaatkan betul untuk menggerakkan kembali aktivitas yang sempat lesu.

Maman menyebut dampak ekonominya "lumayan". Ia memberi contoh, pergerakan terasa hingga ke pasar-pasar besar seperti Tanah Abang dan Senen. Bahkan, efeknya menjalar ke daerah.

"Dan juga beberapa pasar, ada yang di Bandung, teman-teman asosiasi pembuat kerajinan sepatu, dan itu juga akhirnya bergerak," jelas Maman.

Alasannya sederhana: mereka bisa menghabiskan stok lama dan punya modal untuk memutar lagi, membeli bahan baku baru. Siklus ekonomi pun berjalan.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar