Manchester City Bangkit di Menit Akhir, Kalahkan Liverpool 2-1 di Anfield

- Senin, 09 Februari 2026 | 08:15 WIB
Manchester City Bangkit di Menit Akhir, Kalahkan Liverpool 2-1 di Anfield

Suasana di Anfield, Minggu malam itu, tegang. Manchester City, yang tertinggal sejak menit ke-74, tampak terpojok. Namun, dalam enam menit terakhir yang benar-benar dramatis, segalanya berbalik. Bernardo Silva dan Erling Haaland menjadi pahlawan dengan gol-gol telat mereka, membawa City meraih kemenangan 2-1 atas Liverpool. Hasil ini bukan sekadar tiga poin; ini adalah pernyataan. Asa juara mereka, yang sempat redup, kembali menyala terang.

Kemenangan tandang ini punya makna historis. Untuk pertama kalinya dalam 89 tahun, City berhasil mengalahkan Liverpool baik di kandang maupun tandang dalam satu musim liga yang sama. Jarak mereka dengan Arsenal di puncak klasemen pun terpangkas jadi enam poin. Momentum kini berpihak pada warga Etihad.

Peluang untuk semakin mendekat terbuka lebar. Rabu nanti, City akan menjamu Fulham. Kemenangan akan membuat selisih poin dengan sang pemuncak tinggal tiga, sementara Arsenal baru akan bertanding sehari kemudian melawan Brentford. Peta persaingan bisa berubah drastis dalam hitungan hari.

Di ruang konferensi pers, Pep Guardiola terlihat lega, tapi sama sekali tidak terbuai. Dia tahu perjalanan masih panjang.

“Kami tertinggal enam poin. Oke, itu jarak yang besar, tapi banyak hal bisa terjadi. Lebih baik kami punya tiga poin ini daripada tidak sama sekali,” ujar pelatih asal Spanyol itu.

Guardiola dengan sigap menyoroti kompleksitas sisa musim. Jadwal yang padat, risiko cedera, dan tekanan di setiap laga adalah realitas yang harus dihadapi semua tim papan atas.

“Siapa tahu enam poin cukup atau tidak. Masih ada 13 pertandingan lagi. Piala FA, final Carabao Cup, Liga Champions kembali di Maret… cedera pasti terjadi,” katanya, merinci tantangan ke depan.

Dia juga mengingatkan bahwa Arsenal tidak hanya berhadapan dengan mereka. Menurutnya, banyak tim di liga ini punya motivasi kuat sendiri, entah untuk berebut tempat Eropa atau sekadar bertahan. Itu membuat setiap pertandingan menjadi medan perang yang sesungguhnya.

“Bermain melawan tim yang berjuang menghindari degradasi selalu jadi laga yang berat. Mereka punya segalanya untuk dipertaruhkan,” tambah Guardiola.

Namun begitu, pengalaman City dalam beberapa tahun terakhir adalah modal berharga. Guardiola yakin 13 laga itu waktu yang sangat panjang untuk mengubah segalanya.

“Dari pengalaman kami, fase ini memang sangat sulit. Tapi yang terpenting adalah kita tetap bertahan di dalam persaingan. Target kami cuma satu: terus menekan Arsenal, berada di belakang mereka, dan siap memanfaatkan setiap kesalahan,” tuturnya dengan nada kalem namun penuh keyakinan.

Pertemuan langsung nanti di Etihad, tentu saja, akan jadi momen krusial.

“Kami harus bermain melawan mereka di kandang. Jadi ya, tentu saja kami harus mengalahkan mereka,” tegas Guardiola.

Drama di Anfield sebenarnya belum benar-benar usai. Ada satu momen kontroversial di akhir pertandingan. City sempat mengira unggul 3-1 setelah Rayan Cherki menyundul bola ke gawangnya sendiri, tapi gol itu dianulir wasit Craig Pawson. Setelah meninjau VAR, Pawson memutuskan ada pelanggaran dari Haaland kepada Szoboszlai sebelumnya. Alih-alih gol, City dapat tendangan bebas, dan Szoboszlai malah diusir dengan kartu merah karena dianggap menggagalkan peluang jelas.

Keputusan ini jelas tak disukai Guardiola.

“Akal sehat, bukan? Berapa banyak tarikan baju yang terjadi dalam satu pertandingan dan wasit membiarkannya. Beri saja golnya, lanjutkan permainan, dan biarkan Szoboszlai tetap di lapangan,” pungkasnya dengan sedikit geram.

Kemenangan dramatis sudah di kantong. Ancaman sudah dikirim. Sekarang, tinggal menunggu bagaimana Arsenal dan tim-tim lain merespons tekanan yang kian menjadi-jadi ini.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar