GIANYAR Malam di Stadion Kapten I Wayan Dipta punya atmosfernya sendiri. Udara lembap, sorak-sorai yang menggema, dan sejarah yang tak terlalu ramah bagi tamu. Persebaya Surabaya datang ke sini dengan beban yang jelas: menang, atau semakin tertinggal dari Persija dan Persib di papan atas Super League 2025/2026.
Pekan ke-20 ini bukan main-main. Kompetisi sudah masuk fase di mana selisih poin terasa seperti jurang. Persija dan Persib terus melaju, sementara Green Force harus memastikan mereka tak keluar dari orbit persaingan. Ini simpul yang menentukan arah.
Namun begitu, ada kepercayaan yang tumbuh di ruang ganti tim Surabaya itu. Performa mereka belakangan menunjukkan stabilitas. Pemain-pemain baru mulai nyambung, anak-anak muda diberi kepercayaan. Dibandingkan dengan putaran pertama, Persebaya kini terlihat lebih matang.
Salah satu simbol perubahan itu adalah Francisco Rivera.
“Kami dalam kondisi bagus,” ujar gelandang serang asal Meksiko itu sebelum laga. “Siap bekerja keras. Kita tahu Bali United bermain agresif dalam transisi, dan kami harus waspada.”
Nada optimisnya jelas. Di usianya yang ke-31, Rivera bukan sekadar kreator, tapi juga penghubung antara ambisi dan eksekusi di lapangan.
Tapi statistik punya cerita lain. Sejak main di Indonesia, Rivera sudah empat kali berhadapan dengan Bali United. Hanya sekali ia menang. Catatan itu mencakup dua pertemuan musim ini: kemenangan gemilang 5-2 di Surabaya di mana ia cetak satu gol dan dua assist dan kekalahan 1-3 di laga lain meski ia sempat bikin gol.
Rekor tandang Persebaya di Gianyar bahkan lebih suram. Tiga kunjungan terakhir, tiga kekalahan. Dipta bukan tempat yang mudah ditaklukkan. Bali United selalu menjadikan kandangnya sebagai benteng, baik secara taktik maupun psikologis.
Rivera sendiri berusaha mengesampingkan beban angka-angka itu. Baginya, yang penting kontribusi kolektif. Gol atau assist cuma alat. Tiga poinlah tujuannya. Mungkin terdengar klise, tapi di tengah persaingan ketat, kesederhanaan target justru bisa meredam kegugupan.
Di sisi lain, pelatih Bernardo Tavares tak mau terbuai kemenangan besar di putaran pertama. Situasinya sudah beda, katanya. Komposisi pemain berubah, tekanan makin besar.
“Ini cerita yang berbeda,” tegas pelatih asal Portugal itu, seolah ingin menghapus romantisme masa lalu.
Memang, beberapa pemain yang tampil gemilang pada pertemuan Agustus lalu tak lagi memperkuat Persebaya. Tapi Tavares menolak menjadikan itu sebagai alasan. Sepak bola tetaplah sebelas lawan sebelas. Yang menentukan bukan siapa yang absen, tapi siapa yang bisa membaca malam ini dengan lebih baik.
Konteksnya juga menarik. Bali United baru saja kalah dari Persik dengan skor 2-3. Sementara Persebaya datang dengan catatan relatif stabil, meski hasil imbang melawan Dewa United di kandang saat unggul jumlah pemain masih meninggalkan rasa tak puas. Dua tim sama-sama punya luka kecil. Dua tim punya ambisi besar.
Lalu, siapa yang lebih siap mengelola tekanan malam ini?
Bali United jago menyerang balik dengan cepat. Satu kesalahan bagi Persebaya dalam membangun serangan bisa berujung jadi gol. Di sisi lain, kreativitas Rivera dan semangat pemain muda harus diimbangi dengan disiplin bertahan. Terlalu nekat, bisa terpancing. Terlalu hati-hati, momentum hilang.
Di sinilah intinya. Laga ini bukan cuma soal taktik, tapi soal konsistensi hal yang membedakan penantang gelar sejati dari sekadar pesaing musiman. Persebaya sudah tunjukkan potensi. Tapi konsistensi di kandang lawan masih PR besar.
Kalau berhasil, kemenangan di Gianyar bukan cuma memangkas jarak poin. Tapi juga jadi pernyataan: Persebaya serius mengejar sampai akhir. Sebaliknya, kegagalan akan memperkuat narasi lama tentang tim yang kuat di kandang sendiri tapi rapuh di perjalanan.
Jadilah Sabtu malam ini sebagai panggung pembuktian. Di bawah sorot lampu dan tekanan suara tribun, Persebaya punya kesempatan mengubah cerita. Mungkin lewat Rivera. Mungkin lewat pemain lain yang tak terduga.
Sepak bola memang selalu tentang momentum. Diperebutkan, atau terlepas begitu saja. Bagi Persebaya, laga melawan Bali United lebih dari sekadar pertandingan pekan ke-20. Ini ujian mental. Apakah mereka benar-benar siap mengejar, atau cuma jadi pelengkap persaingan di puncak.
Artikel Terkait
Timnas Futsal Indonesia Ungguli Iran 3-2 di Babak Pertama Final Piala Asia
Borneo FC dan Persik Kediri Raih Kemenangan Penting di Pekan Ke-20 Super League
PSM Makassar Rekrut Boboev dan Lagator, Tutup Bursa Transfer Usai Bebas Sanksi FIFA
Leo/Rian Takluk, Kedudukan Indonesia-Jepang Sama Kuat di Semifinal BATC