MAKASSAR – Musim Super League 2025/2026 baru saja bergulir, tapi sudah ada cerita menarik yang langsung mencolok. Bukan cuma soal taktik atau skor, melainkan tentang usia pemain. Ya, komposisi skuad antar klub ternyata menunjukkan dua wajah yang sangat berbeda.
Di satu sisi, ada PSM Makassar yang memilih jalan regenerasi dengan skuad muda. Sementara itu, di ujung lain, Malut United justru mengandalkan kematangan para veteran. Kontras ini bikin liga makin seru untuk ditunggu.
PSM dan Proyek Muda-Mudi
Kalau lihat data, PSM Makassar punya rata-rata usia pemain paling muda di liga: cuma 25,5 tahun. Tim besutan Tomas Trucha ini diisi 32 pemain, dengan sosok termuda adalah Muhammad Fahrul, anak 17 tahun yang naik dari tim U-18 klub.
Tapi jangan salah, mereka tetap punya penyeimbang. Kehadiran Rasyid Bakri yang sudah 35 tahun dianggap penting, bukan cuma di lapangan tapi juga di ruang ganti. Langkah ini sejalan dengan visi PSM yang ingin memajukan bibit-bibit akademi sendiri.
Meski fokus pada pemain muda, mereka tetap memanfaatkan kuota 10 pemain asing sepenuhnya. Tujuannya jelas: menjaga daya saing agar tetap bisa bersaing di papan atas.
Malut United: Taruhan pada Pengalaman
Nah, kalau Malut United ceritanya lain lagi. Mereka justru punya skuad tertua dengan rata-rata usia 29,6 tahun. Strateginya jelas: andalkan jam terbang dan kematangan untuk menghadapi kerasnya kompetisi.
Dua nama yang jadi andalan adalah duet penyerang senior, David da Silva dan Ciro Alves. Keduanya sudah menginjak usia 36 tahun, tapi diharapkan tetap menjadi mesin gol utama tim.
Selain Malut, tim seperti Dewa United dan Persik Kediri juga masuk kategori "berpengalaman", dengan rata-rata usia sama-sama 28,4 tahun.
Dua Filosofi yang Berbeda
Perbedaan mencolok ini sebenarnya mencerminkan dua filosofi sepak bola yang sedang bertarung di Indonesia. Ada yang memilih investasi jangka panjang, ada pula yang mengejar prestasi instan.
Klub seperti PSM Makassar dan Borneo FC (25,7 tahun) jelas lebih berorientasi ke masa depan. Skuad muda punya energi lebih untuk pressing, stamina yang bagus untuk jadwal padat, dan nilai jual yang bisa melambung. Tapi, risiko kekurangan mental di momen-momen genting selalu mengintai.
Sebaliknya, Malut United dengan duet striker 36 tahunnya itu sedang berburu hasil sekarang. Pemain veteran biasanya lebih tenang dan efisien dalam menciptakan peluang. Namun, masalahnya adalah risiko cedera dan penurunan fisik, terutama di paruh kedua musim yang melelahkan.
Lalu, di mana posisi tim-tim besar? Persib (27,3 tahun) dan Persija (26,9 tahun) berada di zona yang dianggap cukup ideal. Usia segitu sering disebut sebagai "prime age" bagi pesepak bola, di mana fisik masih bagus dan pengalaman sudah menumpuk. Kombinasi yang pas untuk berebut gelar.
Yang menarik, meski PSM punya skuad termuda, mereka tetap memaksimalkan kuota pemain asing. Ini bukan tanpa alasan. Selain untuk meningkatkan kualitas, pemain asing diharapkan bisa jadi mentor langsung buat anak-anak muda seperti Fahrul, langsung di lapangan.
Data Usia Rata-rata Skuad
Berikut rincian lengkapnya:
- PSM Makassar – 25,5 tahun
- Borneo FC – 25,7 tahun
- Persijap Jepara – 25,7 tahun
- Persebaya Surabaya – 26,2 tahun
- PSIM Yogyakarta – 26,3 tahun
- Bali United – 26,4 tahun
- PSBS Biak – 26,8 tahun
- Persija Jakarta – 26,9 tahun
- Persita Tangerang – 26,9 tahun
- Bhayangkara FC – 27,2 tahun
- Persis Solo – 27,2 tahun
- Arema FC – 27,2 tahun
- Persib Bandung – 27,3 tahun
- Semen Padang – 27,4 tahun
- Madura United – 27,4 tahun
- Dewa United – 28,4 tahun
- Persik Kediri – 28,4 tahun
- Malut United – 29,6 tahun
Artikel Terkait
Borneo FC Incar Puncak Klasemen BRI Super League saat Jumpa Persik Kediri
Harry Kane Cetak Rekor Baru di Liga Champions, Lewati Catatan Steven Gerrard
Indonesia Tersingkir dari Fase Grup Thomas Cup 2026 Usai Dibantai Prancis 1-4
Atletico Madrid vs Arsenal: Ujian Pertahanan Kokoh di Semifinal Liga Champions