Trucha di Ujung Tanduk, Rekor Buruk PSM Makassar Kian Miris

- Minggu, 25 Januari 2026 | 18:00 WIB
Trucha di Ujung Tanduk, Rekor Buruk PSM Makassar Kian Miris

MAKASSAR – Tomas Trucha pasti merasakan panasnya kursi pelatih. Sabtu malam lalu, PSM Makassar tumbang lagi. Kali ini, di hadapan Persijap Jepara dengan skor 0-2 di Stadion Gelora Bumi Kartini. Kekalahan itu bukan sekadar angka. Itu adalah kekalahan kelima secara beruntun untuk Juku Eja di bawah komandonya.

Lima kali. Angka yang sama persis dengan rekor buruk yang pernah dicatat Bernardo Tavares dulu. Tapi, konteksnya jelas berbeda. Dan bagi Trucha, situasi saat ini terasa lebih pelik.

Rentetan nestapa ini berawal dari kekalahan dari Malut United. Lalu berlanjut tanpa ampun: Persib Bandung, Borneo FC, Bali United, dan puncaknya adalah kekalahan dari Persijap tadi malam. Momentum buruk yang seakan tak ada ujungnya.

Dalam konferensi pers setelah laga, Trucha berusaha tampil tenang. Wajahnya lelah, tapi suaranya berusaha tegas. Ia mengakui timnya sedang tidak baik-baik saja.

"Hasil ini jelas mengecewakan. Namun, fokus kami adalah menatap laga berikutnya,"

Ia menyoroti masalah utama malam itu: pertahanan yang rapuh. Menurutnya, koordinasi yang lambat di lini belakang memberi celah bagi Persijap untuk mencetak gol cepat. Sebuah lubang yang seharusnya bisa ditutup.

Dua Pelatih, Lima Kekalahan

Memang, baik Trucha maupun Tavares sama-sama merasakan pahitnya lima kekalahan beruntun. Tapi kalau dilihat lebih detail, situasi mereka beda banget.

Trucha di musim 2025/2026 ini murni gagal di kandang sendiri. Kelima kekalahannya terjadi di Super League domestik. Imbasnya langsung terasa: posisi PSM di klasemen terancam, dan bayangan degradasi jadi semakin nyata.

Sementara itu, lima kekalahan Tavares di musim 2023/2024 terbagi. Tiga di Liga 1, ditambah dua kekalahan telak di Piala AFC melawan klub Vietnam dan Malaysia. Fokus tim saat itu terbelah antara ajang Asia dan domestik.

Dulu, Tavares punya alasan: banyak pemain pilar yang hengkang. Trucha, di sisi lain, lebih sering menyalahkan faktor teknis dan sedikit nasib sial di lapangan.

Mengapa Situasi Trucha Lebih Pelik?

Nah, di sinilah letak kekhawatiran banyak pengamat. Kekalahan beruntun murni di liga punya dampak psikologis yang lebih berat. Posisi di tabel stagnan atau malah merosot, tekanan suporter setiap pekan makin menjadi, dan ancaman degradasi itu nyata adanya.

Masalah yang diungkapkan Trucha koordinasi buruk dan kebobolan cepat sebenarnya adalah hal yang secara teori lebih mudah diperbaiki. Ini soal skema latihan, konsentrasi, dan komunikasi di lapangan. Bukan soal kehabisan stok pemain bintang.

Artinya, ekspektasi untuk segera bangkit justru lebih besar. Sayangnya, Trucha tidak punya "tabungan" prestasi seperti Tavares, yang pernah membawa PSM juara Liga 1. Dukungan emosional dari publik Makassar bisa saja lebih tipis.

Dengan rekor yang kini menyamai periode terkelam klub dalam tiga tahun terakhir, tekanan di pundak pelatih asal Ceko itu luar biasa besar. Tidak berlebihan jika dikatakan posisinya benar-benar di ujung tanduk. Setiap laga ke depan adalah ujian terakhir.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar