JAKARTA – Tekanan di Istora Senayan Jumat malam itu bukan cuma datang dari lawan. Alwi Farhan, pebulu tangkis muda Indonesia, harus berjuang ekstra keras melawan penerapan aturan yang ketat dari wasit, selain menghadapi Yushi Tanaka dari Jepang. Hasilnya? Kemenangan dua gim langsung 22-20 dan 21-16 yang mengantarnya ke babak semifinal Indonesia Masters 2026.
Namun begitu, jalan menuju kemenangan itu jauh dari mulus. Dari awal laga, wasit sudah terlihat sangat ketat menegakkan aturan 25 detik BWF. Alwi pun beberapa kali mendapat teguran.
“Cukup tricky tadi wasitnya saya rasa,” ujar Alwi usai pertandingan.
“Dari awal baru mau masuk lapangan juga sudah ada teguran-teguran yang saya rasa belum perlu diucapkan,” tambahnya.
Situasi memanas ketika Alwi mencoba mempertanyakan kondisi shuttlecock yang menurutnya sudah rusak. Respons wasit, dalam pengakuannya, terasa keras dan membuat suasana makin tegang.
“Dia sangat-sangat menekankan 25 detik. Tadi saya sempat bertanya ke wasit, ‘ini shuttle-nya sudah rusak’, terus dia bilang, ‘mau (lanjut) main apa saya (beri) kartu?’,” katanya menirukan percakapan.
Momen itu sempat memancing emosinya. Untungnya, pelatih Indra Wijaya yang berada di pinggir lapangan segera turun tangan. Kehadiran sang pelatih berhasil menenangkan Alwi dan mengembalikan fokusnya ke permainan.
“Waduh takut juga kan saya. Nanti daripada rugi,” akunya.
“Tapi Alhamdulillah, meski saya sempat terpancing, Ko Indra bantu arahin saya. Ya anak muda lah pasti, jadi agak nafsu,” ucap Alwi dengan nada lega.
Di luar insiden itu, performanya tetap solid. Alwi mengakui kondisi fisiknya belum benar-benar prima malam itu. Tapi semangat bertandingnya yang berkobar-kobar berhasil menutupi kekurangan tersebut.
“Saya Alhamdulillah sekali, saya amat diberkati hari ini. Saya tidak dalam kondisi 100 persen, tapi saya mencoba memuaskan semangat yang ada,” tuturnya.
Dukungan penonton lokal juga punya peran besar. Suara riuh Istora yang memekakkan telinga justru jadi penyemangat baginya, sekaligus senjata psikologis untuk menekan lawan.
“Alhamdulillah berkat doa dan dukungan masyarakat Indonesia, khususnya yang di Istora juga. Terima kasih banget,” pungkasnya.
“Percaya atau enggak, suara berisik itu sangat membantu saya untuk tidak putus asa dan justru bikin lawan makin tertekan.”
Kini, dengan tiket semifinal di tangan, Alwi Farhan masih menjadi harapan terakhir tuan rumah di sektor tunggal putra turnamen Super 500 ini. Perjalanannya masih panjang, tapi semangatnya jelas tak bisa diremehkan.
Artikel Terkait
Veda Ega Pratama Start ke-17 di Moto3 Spanyol, Kenangan Comeback 2025 Jadi Modal
PSM Makassar Jadi Batu Sandungan Potensial bagi Persib di Perebutan Gelar Super League
Veda Ega Pratama Start ke-17 di Kualifikasi Moto3 Spanyol, Catat Waktu Lebih Cepat tapi Gagal Bersaing
Pemerintah Makassar Gelontorkan Rp350 Miliar untuk Stadion Untia, Target Rampung 2027