Rekor usia juga jadi incaran. Rossi memegang status juara dunia "back-to-back" tertua, saat ia menang di 2008 (usia 29) dan 2009 (usia 30). Nah, Marquez sekarang justru sudah memecahkan rekor juara MotoGP tertua, di usia 32 tahun.
Kalau tahun depan ia bisa pertahankan gelar bersama Ducati, rekor "back-to-back" tertua milik Rossi itu akan tumbang. Standar baru akan tercipta.
Tak ketinggalan, catatan "fastest lap". Di sini, Rossi masih unggul tipis, 76 berbanding 72 untuk Marquez. Selisih empat catatan ini sangat mungkin dikejar dalam satu musim, apalagi dengan motor yang kompetitif.
Namun begitu, bukan berarti semua rekor Rossi akan mudah diambil. Ada satu benteng yang masih kokoh: jumlah podium. Di semua kelas, Rossi punya 235 podium, sementara Marquez baru 165. Selisih 71 podium itu terlalu besar untuk dikejar dalam satu atau dua musim.
Hal serupa terjadi di kelas premier: 199 podium Rossi berhadapan dengan 126 milik Marquez. Tapi, dominasi Marquez yang begitu telak tahun lalu membuat perburuan rekor-rekor lain tetaplah cerita utama yang paling menarik untuk diikuti.
Pada akhirnya, MotoGP 2026 berpotensi menjadi musim bersejarah. Bukan sekadar perebutan gelar juara, tapi lebih dari itu: sebuah panggung untuk menjawab apakah Marc Marquez benar-benar bisa melampaui Valentino Rossi di dalam buku rekor abadi olahraga ini. Pertarungan angka yang dramatis, dan kita semua akan menyaksikannya.
Artikel Terkait
Timnas Futsal Indonesia Hadapi Australia dalam Duel Penentu Juara Grup B Piala AFF 2026
Gong Ruina Bantah Isu Hubungan Asmara dengan Legenda Bulu Tangkis Indonesia Sigit Budiarto
Thalita Ramadhani Gagal Lolos Kualifikasi Badminton Asia Championships 2026
Timnas Hoki Putra Indonesia Amankan Tiket ke Asian Games 2026 Usai Kalahkan Thailand