LIVERPOOL – Suasana kemenangan Liverpool di markas Tottenham ternoda oleh sebuah insiden yang memilukan. Alexander Isak, sang striker, baru saja mencetak gol pembuka yang indah. Namun, beberapa saat kemudian, dia terbaring kesakitan di rumput hijau. Sebuah tekel keras dari bek Spurs, Micky van de Ven, merobek momen indah itu. Kini, kekhawatiran besar menyelimuti Anfield: Isak diduga kuat mengalami patah kaki.
Golnya di Tottenham Hotspur Stadium itu seharusnya jadi momen bahagia. Liverpool menang tipis 2-1 dalam lanjutan Liga Inggris. Tapi lihatlah apa yang terjadi setelah bola masuk gawang. Isak tidak bergerak untuk merayakannya. Ekspresi wajahnya langsung menunjukkan ada yang tidak beres. Dia memanggil tim medis, dan akhirnya harus ditandu keluar lapangan. Sungguh pemandangan yang suram.
Menurut sejumlah saksi di pinggir lapangan, bunyi benturannya terdengar cukup keras. Sinyal yang muncul dari ruang ganti pemain pun tidak menggembirakan. Meski Liverpool masih menunggu hasil pemindaian MRI untuk diagnosis resmi, semua indikasi mengarah pada satu hal: patah tulang.
Ini jadi pukulan telak buat si pemain asal Swedia itu. Sejak diboyong dengan mahar transfer yang tidak sedikit, catatan kebugarannya memang tak pernah benar-benar mulus. Baru-baru ini dia mulai menemukan ritme dan performa terbaiknya. Lalu, musibah ini datang.
Di sisi lain, masalah untuk manajer Arne Slot jauh lebih kompleks. Kehilangan Isak bukan cuma soal kehilangan satu pemain. Ini adalah krisis di lini depan. Situasinya jadi runyam karena Mohamed Salah masih membela Mesir di Piala Afrika. Cody Gakpo pun belum siap seratus persen. Opsi di depan sangat terbatas, padahal jadwal kompetisi sedang padat-padatnya.
Arne Slot sendiri terlihat sangat khawatir usai laga.
“Kami harus menunggu dan melihat,” ujarnya kepada Sky Sports, suaranya datar namun penuh kecemasan. “Sulit untuk berkata-kata banyak saat ini. Yang jelas, kami berdoa untuk yang terbaik.”
Kalau benar kakinya patah, konsekuensinya jelas: Isak bakal absen berbulan-bulan. Bisa dibilang, musim 2025-2026 untuknya sudah berakhir lebih awal. Ini mimpi buruk.
Implikasinya terhadap ambisi Liverpool pun sangat besar. Tanpa mesin gol utamanya, perjuangan untuk bertahan di papan atas liga dan bersaing di Eropa akan terasa jauh lebih berat. Anfield kini hanya bisa menunggu, berharap hasil pemindaian membawa kabar yang sedikit lebih baik. Tapi harapan itu, harus diakui, semakin tipis.
Artikel Terkait
AFC Nilai Final Piala Asia Futsal 2026 Indonesia vs Iran sebagai yang Terbaik Sepanjang Sejarah
Alfan Suaib Jawab Krisis Penyerang Persebaya dengan Gol Krusial Lawan Bali United
PSM Makassar Akhiri Puasa Kemenangan dengan Kemenangan Tipis atas PSBS Biak
FFI Pastikan Kontrak Pelatih Hector Souto Diperpanjang hingga Piala Dunia 2028