Rusia Tawarkan Dialog Nuklir dengan AS: Tanggapan atas Tuduhan Trump dan Upaya Redam Ketegangan

- Rabu, 12 November 2025 | 15:10 WIB
Rusia Tawarkan Dialog Nuklir dengan AS: Tanggapan atas Tuduhan Trump dan Upaya Redam Ketegangan
Rusia Tawarkan Dialog Nuklir dengan AS: Upaya Redam Ketegangan Nuklir Global

Rusia Tawarkan Dialog Nuklir dengan AS: Upaya Redam Ketegangan Nuklir Global

Rusia secara resmi menawarkan dialog nuklir dengan Amerika Serikat. Langkah diplomasi ini diambil sebagai respons untuk meredakan ketegangan antara dua negara pemilik senjata nuklir terbesar di dunia, yang memanas setelah Presiden AS Donald Trump menuduh Moskow melakukan uji coba nuklir bawah tanah secara rahasia.

Pihak Rusia mengakui telah melakukan uji coba sistem persenjataan bertenaga nuklir dalam beberapa pekan terakhir. Namun, mereka dengan tegas menolak klaim Trump bahwa mereka telah meledakkan perangkat nuklir secara diam-diam dan rahasia.

Ketegangan meningkat ketika Donald Trump mengumumkan bahwa dirinya telah memerintahkan Pentagon untuk memulai kembali uji coba senjata nuklir. Keputusan ini disebutnya sebagai balasan atas aktivitas uji coba yang dituduhkan kepada Rusia dan China. Baik Moskow maupun Beijing telah membantah melakukan pelanggaran dengan melakukan uji coba nuklir semacam itu.

Fakta sejarah mencatat bahwa tidak satu pun dari ketiga negara adidaya ini Amerika Serikat, Rusia, dan China yang secara terbuka menguji hulu ledak nuklir sejak tahun 1990-an. Ketiganya telah menandatangani Perjanjian Larangan Uji Coba Nuklir Komprehensif (CTBT) yang melarang semua jenis uji coba nuklir, meski perjanjian ini belum diratifikasi sepenuhnya.

Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, menegaskan kesiapan negaranya untuk berdialog. Dalam pernyataannya yang dilansir media, Lavrov menyatakan, "Kami siap membahas kecurigaan yang diangkat oleh rekan-rekan Amerika kami mengenai kemungkinan bahwa kami mungkin diam-diam melakukan sesuatu secara rahasia."

Tawaran dialog ini muncul setelah Trump melontarkan tuduhannya dalam wawancara dengan CBS News. Insiden diplomasi ini turut disusul oleh pembatalan rencana pertemuan Trump dengan Presiden Rusia Vladimir Putin yang sedianya akan membahas perang di Ukraina, menambah kompleksitas hubungan kedua negara.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar