Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menegaskan komitmen kuat Indonesia dalam aksi penurunan emisi gas rumah kaca. Pemerintah menargetkan pengurangan emisi hingga 1,5 gigaton pada tahun 2030 mendatang.
Dalam pembukaan Paviliun Indonesia di KTT COP30 Brasil, Hanif menyampaikan bahwa Indonesia menetapkan puncak emisi berdasarkan dua skenario Low Carbon Compatible with Paris Agreement (LCCP). "Masing-masing sebesar 1,3 juta gigaton CO2e dan 1,49 juta gigaton CO2e untuk skenario LCPP Low dan LCPP High," jelasnya.
Keseriusan Indonesia dibuktikan melalui pembaruan komitmen dalam dokumen Second Nationally Determined Contribution (SNDC). Hanif menekankan bahwa target yang sebelumnya berbasis presentase kini telah beralih ke tingkat emisi absolut. Perubahan ini menunjukkan langkah nyata Indonesia dalam pengendalian perubahan iklim.
Dibandingkan dengan skenario sebelumnya pada Enhanced NDC yang mencapai 1,63 juta gigaton CO2e, target baru ini merefleksikan penurunan emisi antara 8% hingga 17,5%. Bahkan pada 2035, proyeksi emisi diprediksi terus turun menjadi 1,25 juta gigaton CO2e untuk skenario LCPP Low dan 1,48 juta gigaton CO2e untuk LCPP High.
KTT COP30 yang berlangsung di Belem, Brasil menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk memperkenalkan mekanisme seller meet buyer dalam perdagangan karbon. Inisiatif ini bertujuan mempromosikan potensi karbon Indonesia di pasar global.
Hanif menyampaikan harapan besar bahwa partisipasi dalam konferensi iklim ini dapat menghasilkan manfaat ekonomi sebesar Rp 16 triliun dari transaksi perdagangan karbon. Selain aspek ekonomi, Indonesia juga aktif menjalin kemitraan dengan berbagai negara dan memamerkan berbagai capaian dalam mengurangi emisi gas rumah kaca.
Artikel Terkait
Bologna Bekuk Brann 1-0 di Leg Pertama Play-off Liga Europa
Bayi Monyet Jepang Temukan Pelukan Ibu di Boneka Orangutan Setelah Ditinggal Induk
Palestina Tolak Klaim Israel atas Tepi Barat: Negara Kami Bukan untuk Dijual
Polri Pecat AKBP Didik, Mantan Kapolres Bima Kota, Terbukti Penyalahguna Narkoba