Peran Strategis Sektor Distribusi dalam Memperkuat Ekonomi Nasional
Bambang Soesatyo (Bamsoet), Ketua Umum ARDIN Indonesia, menekankan bahwa sektor distribusi merupakan pilar vital untuk menopang kekuatan ekonomi nasional. Penguatan sistem distribusi dinilai bukan hanya persoalan logistik, melainkan strategi fundamental agar produk dalam negeri dapat bersaing dan menjangkau seluruh pelosok Indonesia secara efisien.
Tantangan Biaya Logistik Indonesia yang Masih Tinggi
Ekonomi nasional masih menghadapi tantangan utama berupa biaya logistik yang tinggi. Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, rasio biaya logistik Indonesia terhadap PDB masih berada di angka 14 persen. Meski telah mengalami penurunan dari sebelumnya yang mencapai 24 persen, angka ini masih lebih tinggi dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand yang berkisar 8-9 persen. Kondisi ini menyulitkan produk lokal, terutama dari pelaku UMKM dan industri daerah, untuk menembus pasar dengan harga yang kompetitif.
Bamsoet menyatakan, "Biaya logistik kita masih tinggi, di mana sekitar separuhnya diserap oleh transportasi darat. Selama infrastruktur dan sistem distribusi belum terintegrasi, daya saing produk nasional akan selalu kalah di pasar." Pernyataan ini disampaikannya saat melantik Pengurus Badan Pengurus Daerah ARDIN Indonesia Provinsi Jawa Barat di Bandung.
Dampak Tingginya Biaya Transportasi terhadap Harga Barang
Sebagai mantan Ketua DPR RI, Bamsoet menjelaskan bahwa sekitar 50 persen komponen biaya logistik nasional berasal dari transportasi darat, khususnya di wilayah luar Jawa yang aksesnya masih terbatas. Akibatnya, terjadi selisih harga barang antara produsen dan konsumen yang dapat mencapai 20-30 persen hanya karena biaya pengiriman. Menghadapi hal ini, diperlukan strategi kolaboratif antara pemerintah, pelaku usaha, dan organisasi seperti ARDIN Indonesia.
Roadmap ARDIN Indonesia 2025-2030 untuk Efisiensi Distribusi
Untuk mengatasi tantangan tersebut, ARDIN Indonesia menyusun roadmap 2025-2030 yang berfokus pada lima arah kebijakan utama:
- Transformasi digital sistem distribusi
- Penguatan kemitraan UMKM
- Dukungan terhadap hilirisasi industri daerah
- Peningkatan kapasitas SDM logistik
- Pembentukan pusat logistik regional
Langkah-langkah ini akan dilaksanakan berbasis data dan hasil yang terukur. "Kita ingin ARDIN Indonesia menjadi ujung tombak yang mempertemukan produsen, distributor, dan pasar. Jika rantai distribusi kita efisien, maka ketahanan ekonomi nasional otomatis menguat," ujar Bamsoet.
Menjawab Tantangan Perdagangan Digital dengan Distribusi Mandiri
Bamsoet juga menyoroti pesatnya pertumbuhan perdagangan digital. Data BPS mencatat transaksi e-commerce Indonesia mencapai Rp 689 triliun pada 2024, naik hampir 20 persen dari tahun sebelumnya. Namun, di balik pertumbuhan ini muncul tantangan ketergantungan pada platform digital raksasa yang dapat mengubah kebijakan bisnis sewaktu-waktu.
"ARDIN Indonesia harus hadir di sana. Kita bantu pelaku usaha membangun sistem distribusi digital mandiri, supaya mereka tidak tergantung pada satu platform saja. Kita arahkan agar ada kanal distribusi nasional yang dikelola bersama secara transparan dan efisien," jelasnya.
Inovasi "Shared Logistics Hub" untuk Tekan Biaya
Sebagai solusi konkret, ARDIN Indonesia akan mengembangkan program "Shared Logistics Hub". Melalui program ini, para anggota dapat memanfaatkan fasilitas gudang bersama dan sistem pengiriman terpadu. Konsep ini diharapkan mampu memangkas biaya pengiriman hingga 20 persen dan mempercepat waktu tempuh distribusi lintas wilayah.
Target Penurunan Rasio Biaya Logistik Hingga 10 Persen
Dalam jangka menengah, ARDIN Indonesia menargetkan penurunan rasio biaya logistik nasional menjadi 10 persen terhadap PDB pada 2030. Target ini akan dicapai melalui optimalisasi jaringan logistik darat, laut, dan udara yang terintegrasi dengan pusat-pusat produksi daerah. Program pelatihan dan sertifikasi juga akan dijalankan untuk meningkatkan kompetensi tenaga logistik sesuai standar industri modern.
Bamsoet menegaskan, "Kita bisa punya industri hilir yang hebat, tetapi kalau distribusinya lambat dan mahal, semua keunggulan itu hilang di jalan. Karena itu, ARDIN Indonesia harus menjadi tulang punggung ekonomi rakyat. Penghubung antara produsen dan pasar, serta antara inovasi dan kesejahteraan."
Artikel Terkait
Menteri Kehutanan Tekankan Integrasi Kearifan Lokal dalam Konservasi Lahan Basah
Ketua MA Tegaskan Tak Ada Bantuan Hukum bagi Hakim Terjerat OTT KPK
Polisi Tetapkan Anak sebagai Tersangka Pembunuhan Beracun Keluarga di Warakas
Dolar AS Melemah di Tengah Perbaikan Sentimen Konsumen yang Masih Rapuh