Dolar AS Melemah di Tengah Perbaikan Sentimen Konsumen yang Masih Rapuh

- Sabtu, 07 Februari 2026 | 08:45 WIB
Dolar AS Melemah di Tengah Perbaikan Sentimen Konsumen yang Masih Rapuh

MURIANETWORK.COM - Nilai tukar Dolar Amerika Serikat (AS) tercatat melemah terhadap sejumlah mata uang utama dunia pada penutupan perdagangan Jumat (7 Februari 2026) waktu setempat. Pelemahan ini terjadi bersamaan dengan terungkapnya data indeks sentimen konsumen domestik yang menunjukkan perbaikan, meski masih dalam batasan tertentu. Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama lainnya turun 0,2 persen ke level 97,633.

Pergerakan Rinci Nilai Tukar

Di pasar New York, pergerakan mata uang tampak beragam. Euro berhasil menguat menjadi USD1,1819, naik dari posisi sebelumnya di USD1,1794. Sementara itu, Poundsterling Inggris juga menunjukkan penguatan, bertambah menjadi USD1,3616 dari USD1,3549.

Namun, tidak semua mata uang bergerak searah. Yen Jepang justru sedikit melemah, dengan dolar AS diperdagangkan pada level 157,1 yen, lebih tinggi dari posisi sesi sebelumnya di 156,9 yen. Di sisi lain, franc Swiss berhasil menguat, menekan dolar AS ke level 0,7754 dari 0,7774 franc. Pelemahan serupa juga terlihat terhadap dolar Kanada dan krona Swedia, di mana dolar AS turun masing-masing menjadi 1,3658 dolar Kanada dan 9,0201 krona.

Sentimen Konsumen: Naik, Tapi Masih Rapuh

Laporan awal Survei Konsumen Universitas Michigan (UM) untuk Februari 2026 mengungkapkan indeks sentimen konsumen AS naik menjadi 57,3, meningkat dari angka akhir Januari yang 56,4. Kenaikan ini didorong oleh perbaikan dalam indeks kondisi ekonomi saat ini, yang melonjak ke angka 58,3. Meski terdengar positif, angka-angka ini masih jauh di bawah level yang tercatat pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Yang menarik, indeks ekspektasi konsumen justru sedikit meredup menjadi 56,6. Data ini mengisyaratkan bahwa meski kondisi saat ini dirasakan membaik, kepercayaan masyarakat terhadap prospek ekonomi ke depan masih diliputi kehati-hatian.

Kekhawatiran Inflasi dan Pasar Tenaga Kerja

Analisis yang lebih mendalam terhadap data survei mengungkap dinamika yang kompleks. Ekspektasi inflasi untuk satu tahun ke depan memang turun menjadi 3,5 persen, angka terendah sejak Januari 2025. Namun, angka ini masih dinilai tinggi jika dibandingkan dengan standar periode 2024. Sebaliknya, ekspektasi inflasi jangka panjang justru naik tipis untuk bulan kedua berturut-turut.

Kondisi inilah yang menjadi penjelas mengapa peningkatan sentimen konsumen masih terbilang terbatas. Joanne Hsu, Direktur Survei Konsumen UM, memberikan konteks yang penting.

"Meskipun sentimen saat ini berada pada level tertinggi sejak Agustus 2025, peningkatan bulanan baru-baru ini relatif kecil dan tingkat sentimen secara keseluruhan tetap sangat rendah dari perspektif historis. Ini karena kekhawatiran tentang terkikisnya keuangan pribadi akibat harga tinggi dan meningkatnya risiko kehilangan pekerjaan terus meluas," jelasnya.

Ungkapan tersebut menegaskan bahwa tekanan harga dan ketidakpastian di pasar tenaga kerja masih menjadi beban psikologis yang berat bagi rumah tangga AS, membatasi dampak positif dari data ekonomi makro yang tampak membaik. Pelemahan dolar pada sesi perdagangan kemungkinan mencerminkan penilaian pasar terhadap kondisi yang masih rapuh ini, di mana optimisme yang muncul tetap dibayangi oleh risiko fundamental yang belum sepenuhnya terselesaikan.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar