Seorang biksu berjubah jingga berdiri di hadapan puluhan muda-mudi, matanya berbinar. "Kami di sini untuk menjalankan misi menyelamatkan negara," katanya. Caranya? Mempertemukan para lajang, hingga suatu hari nanti mereka memiliki anak. Tawa kecil terdengar, diselingi lirik gugup ke arah calon pasangan masing-masing. Ini bukan acara realitas baru, melainkan retret kencan sungguhan di Kuil Donghwasa, sebuah kuil Buddha abad ke-8 yang tersembunyi di antara pepohonan rimbun di Gunung Palgongsan, Korea Selatan.
Acara 30 jam ini diisi dengan berbagai kegiatan dan momen canggung yang tak ada habisnya demi mencairkan suasana dan menemukan cinta. "Umat Buddha selalu menjadi yang pertama bertindak ketika negara kita dalam kesulitan," ujar pembawa acara Yoo Cheol-ju. Ia merujuk pada masa ketika Kuil Donghwasa menjadi markas milisi biksu yang mempertahankan Korea dari penjajah Jepang pada abad ke-16. Namun kali ini, ancaman datang dari dalam negeri. "Angka kelahiran yang rendah merupakan krisis nasional. Kami harus melakukan sesuatu," kata Yoo.
Seperti di banyak negara maju, angka kelahiran di Korea Selatan anjlok. Pada 2023, tingkat kesuburan total mencapai rekor terendah 0,72 jauh di bawah 2,1 yang diperlukan untuk mempertahankan populasi. Biaya perumahan yang melonjak, kurangnya dukungan finansial untuk pengasuhan anak, serta prioritas karier di kalangan perempuan sering disebut sebagai penyebab. Namun, penelitian menunjukkan kaum muda Korea Selatan kini lebih jarang keluar rumah dan berkencan. Aplikasi kencan tidak pernah benar-benar populer; pada 2015, Tinder bahkan mulai beriklan sebagai aplikasi pencari teman agar lebih menarik. Pemerintah telah menawarkan cuti orang tua lebih lama, bantuan tunai, dan apartemen bersubsidi. Pemerintah daerah dan kelompok masyarakat sipil mengambil langkah lebih jauh dengan menyelenggarakan acara perjodohan, seperti yang satu ini.
Seleksi Ketat dan Harapan Baru
Kim Ah-kyung, yang dikenal dengan nama Buddhis Sunhyeji, adalah salah satu peserta pertama yang tiba. Perempuan 28 tahun yang ceria ini duduk di teras sebuah bungalow, menyapa peserta perempuan lain yang mulai berdatangan. Mereka semua lolos seleksi ketat: kuesioner dan video selfie untuk menilai keseriusan mereka dalam hal pernikahan dan memiliki anak. Mereka mengalahkan lebih dari 1.580 pendaftar. Sunhyeji kesulitan menemukan pasangan setelah pindah ke provinsi tenggara. "Sungguh tidak ada kesempatan untuk bertemu pria. Saya hanya bolak-balik antara kantor dan rumah. Tidak punya hobi," katanya.
Kwon Seung-oh, 30 tahun, yang biasa dipanggil Enyo, juga merasa enggan dengan kencan daring. Teman-temannya pernah menjodohkannya dalam sekitar 10 kencan buta, tetapi semua terasa dangkal. Di pabrik susu tempatnya bekerja, 97% rekan kerjanya laki-laki. Kini ia berada di kuil, bertekad menemukan pasangan. Sikap ksatria sudah terlihat sebelum acara dimulai: para pria bergegas membantu peserta perempuan membawa koper ke kamar.
Kencan, Mawar, dan Pertunjukan Bakat
Sesi perkenalan dimulai. Enyo membagikan kue Prancis buatannya sendiri, mendapat pujian. Kemudian tibalah kencan pertama. Sunhyeji dipasangkan dengan Minho, pegawai negeri berusia 32 tahun yang ramah. Mereka berjalan di jalan setapak hutan, bercakap-cakap pribadi. Selanjutnya, para pria memberi mawar plastik kepada perempuan yang ingin mereka kenal lebih jauh saat makan siang. Minho memilih Ruby, desainer berusia 28 tahun. Selama makan, senyuman dan tawa kecil tersebar; percakapan mengalir lancar. Setelah selesai, mereka berdiri lebih dekat, terutama saat mencuci piring bersama.
Namun, puncak kecanggungan tiba: pertunjukan bakat. Minho menari dengan hati-hati mengikuti lagu 2PM, Sunhyeji bergoyang mengikuti irama pop, Enyo melantunkan balada, Ruby memamerkan bahasa Spanyol, dan seorang perempuan memainkan seruling. Aktivitas tak henti membuat peserta kelelahan. Hanya ada beberapa menit istirahat sebelum kencan kilat sambil minum teh hijau yang tak diminum siapa pun. Giliran perempuan memilih pria untuk makan malam: Sunhyeji memberikan mawarnya kepada Minho, membuat Ruby kesal. Enyo tidak dipilih, makan malam bersama yang lain yang juga tanpa pasangan.
Menutup hari, seorang biksu senior menyampaikan pidato menggugah semangat, mengingatkan kewajiban melahirkan keturunan, lalu menyanyikan lagu kebangsaan. Para peserta, yang lebih memikirkan nasib romantis, hanya bergumam.
Upaya Pemerintah dan Perubahan Sikap
Pihak berwenang Korea telah menyelenggarakan acara perjodohan sejak awal 2000-an, mulai dari kencan sambil mengukir kayu hingga pesta DJ. Meski program pemerintah untuk meningkatkan angka kelahiran telah menghabiskan sekitar Rp4.500 triliun sejak 2006, angka kelahiran terus menurun hingga 2024, ketika mulai naik sedikit. Tahun ini, rata-rata setiap wanita diperkirakan melahirkan 1,0 anak, naik dari 0,8. Belum jelas apakah ini akibat langsung inisiatif pemerintah, atau karena pandemi yang menunda pernikahan dan ledakan baby boomer. Namun, survei Maret lalu menunjukkan orang yang belum menikah hampir 10% lebih mendukung pernikahan dan memiliki anak dibanding dua tahun lalu.
Di kuil, pada malam hari dengan satu putaran kencan terakhir tersisa, semangat mulai menipis. Yoo menegaskan masih banyak waktu; waktu tidur pukul 22.00 hanya imbauan. "Malam ini bisa penuh kejutan," katanya. Seolah membuktikan, seorang panitia mencoba peruntungan dengan peserta, mengaku punya pacar tapi hubungan itu akan berakhir. Ruby pergi bersama Minho berjalan-jalan. Sunhyeji terlihat lelah. Enyo dan lainnya keluar satu per satu.
Keesokan paginya, semua bercanda dan mengirim pilihan akhir melalui pesan teks. Delapan pasangan terbentuk, termasuk dua yang melibatkan staf. Kelompok berfoto bersama. Enyo hanya menonton, kecewa, tapi belum menyerah: "Jika mereka mengizinkanku ikut lagi." Sunhyeji sudah ceria; ia begadang hingga pukul 03.00 bergosip dengan perempuan lain. "Aku dapat banyak teman!" serunya. Baginya, ini seperti pesta menginap yang seru, membuatnya merasa remaja lagi. Para pria lajang pun sepakat; mereka terus berkumpul, kali ini dengan minuman dan daging. Tidak semua pulang dengan pasangan, tapi hampir semua pulang dengan teman baru dan rasa percaya diri yang lebih segar.
Artikel Terkait
Keluarga Femas Ditagih Rp 50 Juta oleh Biro Travel Usai Anak Kabur di Korsel
Keluarga Femas Ditagih Rp 50 Juta oleh Travel Usai Kabur di Korea Selatan
WNI Kabur Saat Open Trip ke Korea Selatan, Kemlu Sesalkan Pelanggaran Imigrasi
Peserta Open Trip di Korea Selatan Diduga Kabur, Orang Tua Kaget