Presiden Prabowo Subianto selama ini dikenal sebagai pendorong swasembada pangan dan energi, penggagas program Makan Bergizi Gratis, serta Koperasi Desa Merah Putih. Namun di balik itu, tumbuh warisan lain yang mungkin belum banyak disadari: sederet kebijakan hijau yang berpotensi menjadikannya presiden paling hijau dalam sejarah Indonesia.
Pada 16 Juli 2026, Presiden mengumumkan bahwa Proyek Gas Abadi Masela yang dikembangkan INPEX bersama Pertamina dan Petronas akan mengintegrasikan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) sejak hari pertama produksi. Berbeda dengan proyek gas lain yang baru menambahkan CCS bertahun-tahun setelah beroperasi, Masela sejak awal dirancang agar karbon alami dari reservoir ditangkap dan diinjeksi kembali ke bawah tanah. Proyek LNG ini berpotensi menjadi yang pertama di dunia yang sejak tahap perancangan diarahkan untuk mencapai produksi netral karbon melalui integrasi CCS, bukan sekadar skema offset. Estimasi teknis INPEX menunjukkan CCS di Masela mampu menangkap sekitar 3-4 juta ton CO₂ setiap tahun.
Namun, CCS Masela hanyalah satu bagian dari gambaran yang lebih besar. Di sektor energi, Presiden telah meresmikan peningkatan campuran biodiesel dari B40 menjadi B50. Kebijakan ini diperkirakan mengurangi sekitar 7,8 juta ton CO₂ ekuivalen per tahun dibandingkan B40, sekaligus meniadakan impor solar dan membawa Indonesia menuju swasembada bahan bakar diesel. Dibandingkan solar murni, B50 berpotensi mencegah emisi hingga sekitar 46,72 juta ton CO₂ ekuivalen per tahun.
Transformasi berikutnya bahkan lebih hijau. Presiden mendorong pembangunan 100 GW Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Apabila kapasitas ini secara bertahap menggantikan pembangkit fosil, potensi pengurangan emisi dapat mencapai sekitar 140 juta ton CO₂ setiap tahun, tergantung komposisi pembangkit yang digantikan.
PSEL dan Giant Sea Wall
Presiden juga mempercepat pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di berbagai kota besar. Program ini tidak hanya menyelesaikan masalah sampah dan menghasilkan listrik, tetapi juga mencegah terbentuknya gas metana dari pembusukan sampah organik di tempat pemrosesan akhir. Metana merupakan gas rumah kaca yang jauh lebih kuat daripada CO₂. Dengan mengalihkan sekitar 14,4 juta ton sampah per tahun dari TPA ke fasilitas PSEL, program ini diperkirakan mengurangi 10-17 juta ton CO₂ ekuivalen setiap tahun, dari pencegahan emisi metana dan penggantian listrik fosil.
Di pesisir utara Jawa, Presiden mencanangkan pembangunan Giant Sea Wall sepanjang 575 kilometer. Sebagian akan berbentuk soft wall melalui restorasi dan reforestasi sekitar 40.000 hektare hutan mangrove. Mangrove merupakan ekosistem penyerap karbon paling efektif. Rehabilitasi ini akan meningkatkan kemampuan Jawa menyerap karbon secara alami, melindungi keanekaragaman hayati, dan memperkuat ketahanan pesisir terhadap perubahan iklim.
Pasar Karbon Nasional
Transformasi juga berlangsung di pasar karbon Indonesia. Pada 9 Juli, atas arahan Presiden, pemerintah meluncurkan Sistem Registri Unit Karbon (SRUK) sebagai registri karbon nasional yang mencatat seluruh siklus hidup unit karbon, dari registrasi proyek hingga penghapusan. SRUK dibangun untuk mencegah double counting, meningkatkan transparansi, dan memberikan kepastian hukum. Sistem ini telah diselaraskan dengan Common Carbon Credit Data Model yang dikembangkan atas permintaan G20 dan terhubung dengan registri internasional seperti Verra, Gold Standard, Isometric, dan Plan Vivo. Peluncuran SRUK juga membuka perdagangan karbon sektor kehutanan dengan pipeline awal sekitar 31,72 juta ton CO₂ ekuivalen.
Di luar itu, Presiden mendorong reforestasi kawasan hutan rusak serta pengembangan pembiayaan kreatif untuk kawasan konservasi, terutama taman nasional.
Apabila seluruh kebijakan ini dilihat sebagai satu kesatuan, potensi pengurangan emisi dari CCS Masela, B50, PLTS 100 GW, dan PSEL secara kasar mencapai lebih dari 160 juta ton CO₂ ekuivalen per tahun, belum termasuk penyerapan karbon dari mangrove, reforestasi, konservasi, maupun proyek-proyek baru melalui SRUK. Jika berhasil diwujudkan, Presiden Prabowo tidak hanya akan dikenang sebagai presiden swasembada pangan atau energi, tetapi juga sebagai "Presiden Hijau" yang meletakkan fondasi transformasi lingkungan terbesar dalam sejarah Indonesia.
Artikel Terkait
Prabowo Tegaskan Proyek LNG Abadi Masela Harus Saling Menguntungkan
Prabowo Resmikan Proyek LNG Masela, Sebut Tonggak Kemandirian Energi Nasional
Setelah 28 Tahun Tertunda, Proyek LNG Abadi Masela Akhirnya Mulai Dibangun
Diplomasi dan Reformasi Domestik: Dua Sisi yang Tak Terpisahkan bagi Pemerintahan Prabowo