ASN BPN Tewas Lompat dari Apartemen Medan Usai Diperas Sindikat Open BO

- Kamis, 16 Juli 2026 | 16:30 WIB
ASN BPN Tewas Lompat dari Apartemen Medan Usai Diperas Sindikat Open BO

Seorang aparatur sipil negara (ASN) di Badan Pertanahan Nasional (BPN) Nias berinisial AL (27) tewas setelah melompat dari lantai 12 Apartemen Skyview, Medan. Peristiwa itu terjadi setelah ia menjadi korban pemerasan oleh dua perempuan yang tergabung dalam sindikat pemerasan berkedok layanan open BO.

Menurut Kasat Reskrim Polrestabes Medan AKBP Adrian Risky Lubis, korban berkomunikasi dengan pelaku FR (31) melalui aplikasi MiChat pada Jumat (10/7) sekitar pukul 03.30 WIB. Korban memesan FR untuk datang ke apartemen, namun FR justru mengajak temannya, JS (29).

Saat tiba, korban menolak berhubungan badan dengan FR karena foto yang ditampilkan di aplikasi tidak sesuai dengan aslinya. Akhirnya, korban memutuskan berhubungan dengan JS. FR kemudian keluar kamar sekitar pukul 04.31 WIB dan menunggu di lorong, namun sebelumnya ia meminta uang cancel sebesar Rp 400 ribu dari korban.

JS menetapkan tarif hubungan sebesar Rp 850 ribu, yang langsung dibayar korban ke rekening yang diberikan FR. Setelah selesai, korban meminta pelayanan tambahan tanpa kesepakatan harga sebelumnya. Usai pelayanan tambahan, JS memanggil FR masuk ke kamar.

"Nah, di situ mereka meminta uang tambahan sebesar Rp 4.500.000 untuk adegan tambahan tadi. Ini kan berarti empat kali lipat lah dari harga awalnya (Rp 850 ribu)," kata Adrian dalam konferensi pers, Rabu (15/7/2026).

Korban menolak membayar karena jumlahnya terlalu besar. Namun, para pelaku terus mendesak dan memaksa korban menunjukkan saldo rekening di ponselnya. "Jadi dia (pelaku) memaksa korban untuk menunjukkan saldonya di handphone-nya si korban sambil mendekati korban. Kamar itu ada balkon, balkonnya itu sekitar satu meter lah jaraknya dari pintu kamar," ujar Adrian.

Dalam tekanan tersebut, korban nekat melompat dari balkon lantai 12 dan tewas di tempat. Pelaku mengakui telah beberapa kali melakukan pemerasan dengan modus serupa: setelah deal awal, mereka meminta biaya tambahan untuk layanan yang tidak disepakati sebelumnya. "Foto itu untuk nilai jual, biasanya dia (pelaku) ganti-ganti (fotonya)," jelas Adrian.

Menariknya, setelah kejadian, pelaku FR sempat berkonsultasi dengan kecerdasan buatan (AI) bernama Dola. Ia mencari tahu soal proses penyelidikan polisi. Pertanyaan yang diajukan antara lain: "Berapa hari kita akan dipanggil ke kantor polisi sebagai saksi dari waktu kejadian?", "Kalau ada orang bunuh diri, kita di TKP, berapa lama kita dipanggil?", "Kalau satu minggu setelah kejadian, kita tidak dipanggil oleh polisi, apakah kita sudah di posisi aman atau belum?", dan "Gimana cara supaya tenang menghadapi nanti kalau kita dipanggil polisi?".

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags