Setiap 15 Juli, dunia memperingati Hari Keterampilan Pemuda Sedunia atau World Youth Skills Day. Peringatan ini bertujuan menekankan pentingnya membekali generasi muda dengan keterampilan yang relevan untuk dunia kerja, pekerjaan layak, dan kewirausahaan.
Perserikatan Bangsa-Bangsa menetapkan 15 Juli sebagai hari peringatan pada 2014 melalui Majelis Umum. Momentum ini menjadi ajang dialog antara kaum muda, lembaga pendidikan dan pelatihan kejuruan (TVET), sektor swasta, pembuat kebijakan, serta mitra pembangunan. Mereka membahas peran keterampilan dalam membentuk masyarakat yang inklusif dan berkelanjutan.
Tema 2026: Skills for a Shared Future
Dunia kerja berubah cepat. Kecerdasan buatan hingga kompleksitas sosial mengubah cara belajar, bekerja, dan berpartisipasi dalam masyarakat. Untuk bertahan, kaum muda tidak cukup hanya menguasai keterampilan teknis. Mereka butuh kompetensi seimbang yang mencakup keterampilan digital, AI, ramah lingkungan, sosial-emosional, dan kewarganegaraan dilengkapi kualitas manusia yang tidak bisa digantikan teknologi.
Tema tahun ini, "Skills for a Shared Future", menyoroti perlunya program keterampilan pemuda yang inovatif. Program itu harus mempersiapkan mereka sukses dalam masyarakat dan ekonomi, mampu memimpin dengan empati, berkomunikasi lintas budaya, membangun ketahanan, serta berkontribusi pada masa depan yang lebih baik.
Urgensi Peringatan
Pengangguran kaum muda masih menjadi tantangan global. Menurut Tren Ketenagakerjaan Global untuk Kaum Muda 2024 dari ILO, tingkat pengangguran pemuda dunia turun menjadi 13% pada 2023 terendah dalam 15 tahun dan di bawah level pra-pandemi 13,8%. Namun, pemulihan tidak merata. Di Negara-negara Arab, Asia Timur, dan Asia Tenggara, angka pengangguran 2023 justru lebih tinggi dibanding 2019.
Satu dari lima anak muda di seluruh dunia dan lebih dari seperempat perempuan muda berstatus NEET (tidak bekerja, tidak sekolah, atau tidak mengikuti pelatihan). Tingkat NEET perempuan muda mencapai 28,1%, lebih dari dua kali lipat laki-laki muda yang hanya 13,1%. Bahkan bagi yang bekerja, pekerjaan layak masih langka. Lebih dari separuh pekerja muda berada di sektor informal. Di negara berpenghasilan rendah, tiga perempat dari mereka hanya memiliki pekerjaan wiraswasta atau sementara.
Pendidikan dan Pelatihan Kejuruan (TVET) dinilai mampu membekali kaum muda dengan keterampilan yang dibutuhkan untuk mengakses dunia kerja, termasuk kewirausahaan. TVET juga dapat meningkatkan respons terhadap perubahan tuntutan keterampilan, produktivitas, dan tingkat upah. Selain itu, TVET mengurangi hambatan akses ke dunia kerja melalui pembelajaran berbasis kerja, serta memastikan keterampilan diakui dan disertifikasi. Program ini juga membuka peluang bagi kelompok rentan seperti mereka yang putus sekolah atau NEET.