Kebakaran TPA Jatiwaringin Jadi Alarm Transformasi Pengelolaan Sampah Nasional

- Minggu, 05 Juli 2026 | 19:25 WIB
Kebakaran TPA Jatiwaringin Jadi Alarm Transformasi Pengelolaan Sampah Nasional

Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PAN, Eddy Soeparno, menyatakan keprihatinannya atas kebakaran yang melanda Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin. Peristiwa itu, menurutnya, menjadi peringatan keras bahwa Indonesia harus segera meninggalkan sistem pengelolaan sampah yang bertumpu pada penimbunan dan beralih ke metode yang lebih modern, seperti Waste-to-Energy (WTE).

Eddy menilai pengelolaan sampah berbasis WTE merupakan langkah strategis. Selain mengurangi volume sampah yang berakhir di TPA, teknologi ini juga mampu menghasilkan energi yang bermanfaat bagi masyarakat.

"Kebakaran TPA Jatiwaringin menjadi alarm bahwa kapasitas pengelolaan sampah kita sudah berada di titik yang membutuhkan perubahan mendasar. Termasuk di dalamnya adalah memproses sampah menjadi sumber daya yang memberikan manfaat bagi masyarakat, termasuk menjadi energi listrik," ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu (5/7/2026).

Indonesia menghasilkan sekitar 56 juta ton sampah setiap tahun. Sebagian besar masih berakhir di tempat pemrosesan akhir melalui sistem penimbunan. Kondisi ini meningkatkan risiko kebakaran akibat akumulasi gas metana, memperbesar pencemaran lingkungan, dan membuat potensi energi serta nilai ekonomi dari sampah belum dimanfaatkan secara optimal.

Karena itu, Eddy mendukung langkah Presiden Prabowo Subianto yang tengah mempercepat pembangunan fasilitas Waste-to-Energy di berbagai daerah sebagai bagian dari pembenahan sistem pengelolaan sampah nasional.

"Program Waste-to-Energy merupakan salah satu solusi strategis karena mampu menjawab dua tantangan sekaligus, yakni mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA dan menghasilkan energi listrik yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Inilah bentuk nyata ekonomi sirkular yang memberikan nilai tambah dari sesuatu yang selama ini dianggap sebagai limbah," katanya.

Teknologi WTE telah diterapkan di berbagai negara dengan standar lingkungan yang ketat. Eddy menekankan, pembangunan dan operasional fasilitas tersebut harus memenuhi ketentuan lingkungan hidup, menggunakan teknologi terbaik, diawasi secara transparan, serta memenuhi standar emisi internasional.

Namun, ia mengingatkan bahwa pengurangan sampah dari sumber tetap harus menjadi prioritas. Pemilahan sampah rumah tangga, peningkatan kegiatan daur ulang, penguatan bank sampah, dan edukasi kepada masyarakat tidak boleh diabaikan.

"Waste-to-Energy bukan berarti kita mengabaikan upaya pengurangan sampah. Justru WTE menjadi bagian dari sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi. Sampah yang masih memiliki nilai ekonomi harus didaur ulang terlebih dahulu, sedangkan residunya dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi," jelasnya.

Eddy berharap kebakaran TPA Jatiwaringin menjadi momentum untuk mempercepat transformasi sistem pengelolaan sampah nasional. Menurutnya, Indonesia perlu beralih dari pendekatan landfill oriented menuju sistem modern yang mengedepankan teknologi, ekonomi sirkular, dan energi bersih.

"Persoalan sampah tidak cukup diselesaikan dengan memperluas TPA. Kita membutuhkan keberanian melakukan lompatan kebijakan melalui percepatan pembangunan Waste-to-Energy sebagai bagian dari strategi nasional menuju Indonesia yang lebih bersih, lebih sehat, sekaligus lebih mandiri dalam penyediaan energi. Momentum ini harus kita manfaatkan agar kejadian seperti kebakaran TPA Jatiwaringin tidak terus berulang di masa mendatang," pungkasnya.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags