Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta masyarakat tetap waspada terhadap potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang diprediksi masih akan mengguyur sejumlah wilayah Indonesia pada periode 26 hingga 29 Juni 2026. Meski musim kemarau dilaporkan kian meluas di selatan ekuator, fenomena dinamika atmosfer regional memicu pertumbuhan awan hujan yang cukup signifikan.
Dalam keterangan yang dikutip pada Kamis pagi, 25 Juni 2026, BMKG memetakan wilayah dengan curah hujan rendah meliputi Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Lampung, serta sebagian Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua bagian selatan. Sementara itu, hujan kategori menengah masih banyak dijumpai di Sumatra bagian tengah hingga utara, Kalimantan bagian barat hingga utara, sebagian Sulawesi, Maluku, dan Papua.
Untuk sisa hari ini, Kamis, 25 Juni 2026, tiga wilayah masuk dalam kategori Siaga akibat potensi hujan lebat hingga sangat lebat, yaitu Sumatra Utara, Kepulauan Bangka Belitung, dan Jawa Barat. Peningkatan hujan intensitas sedang juga merata di sebagian besar Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga klaster Papua.
Memasuki periode 26 hingga 29 Juni 2026, cuaca di Indonesia umumnya masih didominasi oleh kondisi hujan ringan hingga lebat. Wilayah yang perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan sedang meliputi Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, wilayah Kalimantan, Sulawesi, Maluku, serta Papua.
Khusus pada periode tersebut, Papua Pegunungan ditetapkan berstatus Siaga karena berpotensi dilanda hujan lebat hingga sangat lebat yang dapat disertai kilat, petir, dan angin kencang. Di sisi lain, potensi angin kencang di luar wilayah tersebut terpantau nihil.
Masih adanya pasokan hujan di tengah musim kemarau ini dipicu oleh propagasi Gelombang Kelvin yang aktif dari wilayah Sumatra, Kalimantan, Sulawesi Utara, Maluku Utara, hingga pesisir Papua Barat Daya. Kondisi ini diperkuat oleh adanya pola siklonik di Samudra Hindia barat Sumatra dan Selat Makassar yang membentuk area belokan serta pertemuan angin.
Merespons kondisi atmosfer yang dinamis ini, BMKG meminta masyarakat di daerah yang masih rawan hujan untuk mengantisipasi dampak turunan seperti banjir, tanah longsor, hingga berkurangnya jarak pandang. Sebaliknya, bagi warga di wilayah yang sudah kering, BMKG menyarankan untuk menjaga kecukupan cairan tubuh akibat cuaca terik di siang hari.
Artikel Terkait
Gempa Dahsyat Guncang Venezuela, Tiga Tewas Akibat Bangunan Runtuh di Caracas
Gempa Kembar Magnitudo 7,2 dan 7,5 Guncang Venezuela, 32 Tewas dan Ratusan Luka-luka
Menkes: Ada Dokter Berpenghasilan Miliaran per Bulan, Ada yang Cuma Ratusan Ribu
Harga Emas Dunia Diprediksi Kembali Tertekan, Analis Sebut Potensi Pelemahan ke Level USD3.958