Rencana perdamaian antara Iran dan Amerika Serikat masih menyisakan teka-teki. Meskipun Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan telah diteken, naskah perjanjian tersebut belum juga dipublikasikan hingga kini.
Wakil Presiden AS, Vance, dalam wawancaranya dengan NBC News, mengungkapkan bahwa dokumen itu belum bisa dibuka untuk umum karena memuat klausul yang mengharuskan pengawas nuklir internasional kembali ke Iran. Ia menegaskan bahwa hal tersebut merupakan inti dari perjanjian.
“Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dan Amerika Serikat akan membantu Iran menghancurkan persediaan uranium yang sangat diperkaya. Itu dijelaskan dengan sangat jelas dalam nota kesepahaman (MoU),” ujar Vance.
Ia menambahkan bahwa jadwal inspeksi nuklir kemungkinan besar bisa dirumuskan pada hari Jumat mendatang. “Karena ada kesepakatan luas tentang hal ini, tidak banyak perbedaan pendapat. Itu seharusnya terjadi dengan sangat cepat,” katanya.
Sementara itu, para pejabat Iran memiliki pandangan berbeda. Mereka sebelumnya menyatakan bahwa negosiasi mengenai masalah nuklir baru akan digelar setelah perjanjian awal ditandatangani. Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, saat mengumumkan MoU pada hari Senin, juga menegaskan bahwa “negosiasi untuk perjanjian akhir akan ditunda hingga pihak lain memenuhi kewajibannya berdasarkan kesepakatan awal.”
Kesepakatan damai antara AS dan Iran pertama kali diumumkan oleh Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, pada Senin (15/6). Sharif menyatakan bahwa Washington dan Teheran sepakat untuk menghentikan pertempuran secara “segera dan permanen” di semua front, termasuk Lebanon.
Artikel Terkait
KRL Jogja–Solo Resmi Beroperasi Penuh, Tarif Rp8 Ribu Sekali Perjalanan
Gempa M6,7 Guncang Palu, BMKG Pastikan Tak Berpotensi Tsunami
Perjanjian Damai AS-Iran Masih Simpang Siur, Isi Kesepakatan Nuklir Belum Dipublikasikan
Kesepakatan Damai AS-Iran Masih Diselimuti Ketidakjelasan, Poin Nuklir Jadi Perdebatan