Trump Umumkan Penandatanganan Kesepakatan Timur Tengah, Garda Revolusi Iran Bantah Jadwal Tersebut

- Senin, 15 Juni 2026 | 08:15 WIB
Trump Umumkan Penandatanganan Kesepakatan Timur Tengah, Garda Revolusi Iran Bantah Jadwal Tersebut
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan bahwa kesepakatan yang telah lama dinantikan untuk mengakhiri perang di Timur Tengah akan ditandatangani pada hari Minggu. Namun, pernyataan tersebut langsung mendapat bantahan tegas dari Garda Revolusi Iran (IRGC), yang menegaskan bahwa jadwal penandatanganan itu tidak sesuai dengan realitas negosiasi yang berlangsung. Menurut Trump, penandatanganan perjanjian itu akan membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi urat nadi perdagangan energi dunia. Dalam unggahannya di platform Truth Social pada Sabtu (13/6/2026), ia menulis, “Kesepakatan itu dijadwalkan akan ditandatangani besok, dan segera setelah ditandatangani, Selat Hormuz TERBUKA UNTUK SEMUA.” Pernyataan tersebut langsung memicu perhatian internasional, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur kritis bagi distribusi minyak dan gas global. Pembukaan kembali jalur ini dinilai dapat meredakan ketegangan geopolitik sekaligus menjaga stabilitas pasokan energi dunia. Namun, klaim Trump tampaknya belum sejalan dengan sikap Iran. Kementerian Luar Negeri Iran sebelumnya mengindikasikan bahwa kesepakatan tersebut tidak akan ditandatangani pada hari yang disebutkan. IRGC, melalui pernyataan resminya, mengkritik apa yang mereka sebut sebagai “kegigihan luar biasa” Trump dalam menandatangani perjanjian tersebut. Dalam laporan CNN, Minggu (14/6/2026), IRGC menyebut jadwal yang diumumkan Trump sebagai “ujian bagi tim negosiasi Iran.” Mereka menekankan bahwa para negosiator Iran secara eksplisit menyatakan bahwa memorandum tersebut belum diselesaikan dan penandatanganan pada hari Minggu pasti tidak akan terjadi. Lebih lanjut, dalam unggahan di Telegram, IRGC menyinggung kemungkinan bahwa Trump ingin menjadwalkan penandatanganan itu bertepatan dengan hari ulang tahunnya pada 14 Juni. “Beberapa pengamat percaya bahwa kegigihannya mungkin didorong oleh keinginan untuk menggunakan kesempatan itu secara simbolis dan mengubahnya menjadi acara publisitas pribadi,” demikian bunyi pernyataan tersebut. Sementara itu, di tengah ketidakpastian tersebut, delegasi Qatar bersama seorang diplomat tiba di Teheran. Kunjungan itu merupakan bagian dari proses mediasi untuk mengakhiri perang antara Iran dan Amerika Serikat. Seorang penasihat menteri luar negeri Qatar telah dikirim ke Iran, seperti dilaporkan kantor berita ISNA. Kantor berita Iran lainnya, Tasnim, menyebutkan bahwa tujuan kunjungan tersebut adalah untuk “meninjau perkembangan terbaru terkait proses diplomatik.” Seorang diplomat yang mengetahui situasi tersebut, yang berbicara secara anonim, mengatakan kepada AFP bahwa “para negosiator Qatar terbang ke Teheran pagi ini” untuk membantu memfasilitasi penyelesaian perjanjian.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar