Iran Tuding AS Bertanggung Jawab Penuh atas Eskalasi Konflik di Timur Tengah

- Selasa, 09 Juni 2026 | 10:10 WIB
Iran Tuding AS Bertanggung Jawab Penuh atas Eskalasi Konflik di Timur Tengah

Kementerian Luar Negeri Iran secara resmi menyatakan Amerika Serikat bertanggung jawab penuh atas setiap kemungkinan eskalasi konflik di Timur Tengah, seiring meningkatnya ketegangan antara Iran dan Israel yang kembali memanas dalam beberapa hari terakhir.

Dalam pernyataan resminya pada Senin (8/6), Teheran menegaskan bahwa tindakan militer Israel tidak dapat dipisahkan dari kebijakan Washington. “AS memikul tanggung jawab langsung atas pelanggaran gencatan senjata baru-baru ini,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran. Ia juga melontarkan kritik tajam terhadap Badan Energi Atom Internasional (IAEA), dengan menuduh badan pengawas nuklir PBB itu mengabaikan realitas konflik dan bersikap bias secara politik dalam krisis yang sedang berlangsung.

Saling serang rudal antara Iran dan Israel pecah setelah Israel melancarkan serangan udara ke ibu kota Lebanon, Beirut, pada akhir pekan lalu. Iran merespons dengan meluncurkan dua gelombang rudal balistik ke target-target di Israel. Seorang pejabat militer Israel mengklaim bahwa hampir 30 rudal telah ditembakkan oleh Iran sejak permusuhan kembali memanas pada Minggu (7/6). “Mereka menembakkan hampir 30 rudal balistik ke arah Israel,” katanya kepada para jurnalis, seraya menambahkan bahwa kelompok pemberontak Houthi dari Yaman juga ikut menembakkan dua rudal dalam dua serangan terpisah.

Meskipun militer Iran kemudian mengumumkan penghentian operasi ofensif terhadap Israel setelah sehari penuh baku tembak, komando gabungan Teheran memberikan peringatan keras. “Langkah-langkah yang jauh lebih berat dan menghancurkan dibandingkan sebelumnya akan menyusul,” demikian pernyataan resmi mereka, jika Israel atau sekutunya kembali melakukan agresi, termasuk di Lebanon Selatan. Konfrontasi ini dinilai sebagai yang paling serius sejak gencatan senjata mulai berlaku pada April lalu.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menuntut penghentian segera permusuhan tersebut. “Israel dan Iran harus segera berhenti menembak,” tulis Trump di media sosial. Ia mengklaim bahwa Iran dan Israel sama-sama menginginkan gencatan senjata, dan negosiasi perdamaian sedang berlangsung, “asal tidak digagalkan oleh kebodohan atau ketidaktahuan.” Pernyataan itu muncul setelah wawancara dengan Financial Times, di mana Trump menegaskan bahwa dirinyalah yang mengendalikan situasi, bukan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. “Saya yang menentukan. Saya yang menentukan semuanya. Dia bukan yang menentukan,” klaim Trump.

Namun, laporan dari The Associated Press (AP) pada Minggu (7/6) mengungkapkan bahwa Trump sebelumnya telah mendesak Netanyahu untuk tidak segera membalas serangan rudal Iran. Seorang pejabat senior AS menyebutkan bahwa permintaan itu disampaikan langsung dalam percakapan telepon. Di sisi lain, seorang pejabat Israel mengonfirmasi bahwa Letnan Jenderal Eyal Zamir, kepala Pasukan Pertahanan Israel (IDF), telah berkomunikasi dua kali dengan komandan CENTCOM AS dalam 24 jam terakhir untuk membahas situasi. Namun, Israel tampaknya mengabaikan permintaan Washington untuk tidak melancarkan serangan balasan.

Ketegangan ini memicu kemarahan di kalangan negara-negara mediator. AP melaporkan bahwa pejabat dari Mesir, Arab Saudi, Turki, Pakistan, dan Qatar yang terlibat dalam upaya mediasi antara Iran dan AS merasa marah atas serangan Israel di Beirut. Serangan itu terjadi saat menteri dalam negeri Pakistan tengah berada di Teheran dalam upaya mendorong negosiasi. Para mediator dilaporkan mengatakan kepada pemerintahan AS bahwa serangan di Beirut dirancang “untuk mengganggu upaya kami mencapai kesepakatan” dan bahwa “Trump harus menghentikan manuver sembrono Netanyahu.”

Di Lebanon, Perdana Menteri Nawaf Salam mengklaim bahwa Israel telah melakukan hampir 3.500 serangan udara di negaranya sejak gencatan senjata yang dimediasi AS mulai berlaku pada pertengahan April. Dalam pernyataan yang dipublikasikan kantornya, Salam merinci bahwa pasukan Israel telah melakukan 3.491 serangan udara, 407 pembongkaran terkontrol, dan enam operasi “perataan” yang dilaporkan membuat beberapa desa di Lebanon Selatan rata dengan tanah. Militer Israel belum menanggapi angka-angka tersebut, meskipun secara rutin menyatakan bahwa mereka hanya menargetkan lokasi dan infrastruktur milik kelompok Islamis yang didukung Iran, Hezbollah.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar