Limbah pertanian yang selama ini hanya menjadi sisa tak terpakai, kini menjelma menjadi bahan baku bernilai tinggi berkat inovasi bioteknologi. Mycotech Lab (MYCL), perusahaan rintisan asal Bandung, berhasil mengolah bahan organik seperti sisa pati singkong, kulit jagung, serat ampas tebu, dan serbuk kayu menjadi furnitur, bahan bangunan, hingga produk fesyen. Kunci dari transformasi ini adalah miselium jamur, perekat alami yang menggantikan lem kimia sintetis.
Teknologi MYCL tidak hanya bertahan di dalam negeri. Perusahaan ini telah melisensikan teknologinya ke mitra produksi di Jepang dan mendirikan perusahaan patungan di negara tersebut. Di Indonesia, upaya memperkenalkan produk ramah lingkungan ini mendapat dukungan dari Rujak Center for Urban Studies dan Urun Daya Kota. Lead Researcher Rujak Center for Urban Studies, Shally Pristine, mengungkapkan pentingnya memperluas jangkauan produk inovatif ini kepada masyarakat.
“Rujak ajak Mycotech untuk mempopulerkannya. Bisa loh, jamur dipakai buat furnitur,” kata Shally saat ditemui di pameran di Taman Ismail Marzuki, Jumat (5/6).
Dalam pameran bertajuk ‘Material Masa Depan’ yang digelar di Jakarta Future Festival 2026, MYCL menampilkan sejumlah produk andalannya. Di antaranya adalah Mylea Sea, BioBo, dan produk komposit padat. Mylea Sea menjadi sorotan utama sebagai inovasi terbaru yang terbuat dari 100 persen material alami. Produk ini dibuat dari karagenan alga merah yang diperoleh langsung dari komunitas pesisir, dan dirancang untuk menggantikan film sintetis atau plastik.
“Ini 100 persen biodegradable, bisa dibuat jadi tas, buat menggantikan plastik,” ujar Shally.
Selain membantu melindungi ekosistem laut, produk ini juga berkontribusi pada peningkatan mata pencaharian masyarakat lokal secara etis. Namun, penggunaannya tidak terbatas pada produk fesyen. Shally menambahkan bahwa MYCL tengah melakukan riset untuk memanfaatkan Mylea Sea sebagai komponen pendukung pada baterai kendaraan listrik. “Untuk salah satu elemen di dalamnya, karena ini sangat baik untuk dijadikan insulator,” ucapnya.
Sementara itu, BioBo merupakan papan partikel tanpa perekat atau binderless board yang dikembangkan dari limbah agroforestri. Produk ini memanfaatkan miselium jamur sebagai pengikat alami, dan dibuat dengan memanfaatkan sisa padat dari produksi Mylea. Dengan demikian, proses produksinya sangat minim limbah, bahkan nyaris tanpa limbah. Tanpa material perekat kimia, BioBo mengubah limbah pertanian menjadi material yang kuat, fungsional, dan berkelanjutan.
“Ini buat pelapis dinding, supaya enggak panas,” ucap Shally.
Dia menambahkan bahwa MYCL juga tengah mengembangkan BioBo menjadi material tahan panas untuk melapisi pipa-pipa dalam struktur mechanical electrical bangunan agar tidak mudah terbakar. Selain itu, ada MycoBlox, blok modular yang terbuat dari miselium jamur dan limbah pertanian. Produk ini dapat terurai sepenuhnya dan meskipun ringan, memiliki kekuatan yang baik. MycoBlox dapat digunakan sebagai dekorasi rumah.
Dalam kesempatan yang sama, MYCL juga memperlihatkan bangku ‘Shrum’ yang terbuat dari serbuk kayu dan perekat alami berupa miselium jamur. Pengunjung pameran dapat memastikan secara langsung kekuatan produk ini. MYCL mengungkapkan bahwa emisi karbon yang dihasilkan produk komposit MYCL per kubik, sebagai material struktural dekoratif, 10 persen lebih rendah dibandingkan material lainnya. Untuk produk Shrum, emisi karbon yang dihasilkan selama produksi mencapai 4.190 kg CO2-eq, namun produk ini memiliki kapasitas penyimpanan karbon sebesar -2.679 kg CO2-eq.
Artikel Terkait
Pembersihan ‘Pulau Sampah’ di Pesisir Jakarta Utara Rampung Setelah Tiga Hari Pengerukan
Pemerintah Segera Naikkan HET MinyaKita Imbas Lonjakan Harga CPO dan Biaya Produksi
Indonesia Tawarkan Diri Jadi Jembatan Penghubung ASEAN-Eurasia di Tengah Ketidakpastian Global
Formas Soroti Nasib Guru Honorer: Minim Kesejahteraan dan Tak Pasti Status