WHO Tetapkan 10 Negara Afrika Berisiko Tinggi Terkena Ebola Akibat Penyebaran yang Meluas

- Jumat, 05 Juni 2026 | 19:45 WIB
WHO Tetapkan 10 Negara Afrika Berisiko Tinggi Terkena Ebola Akibat Penyebaran yang Meluas

Wabah Ebola yang pertama kali terdeteksi di Kongo kini menunjukkan perluasan penyebaran yang mengkhawatirkan di sejumlah negara Afrika. Sejak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkannya sebagai Darurat Kesehatan Masyarakat yang Menjadi Perhatian Internasional atau Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) pada Mei lalu, virus mematikan ini terus bergerak melintasi perbatasan dan mengancam kawasan-kawasan baru di benua tersebut.

Berdasarkan data dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di Afrika (Africa CDC), terdapat sepuluh negara yang dinilai memiliki kerentanan tinggi terhadap penularan Ebola. Kerentanan ini terutama dipicu oleh tingginya mobilitas penduduk dan aktivitas perdagangan yang melintasi batas negara. Jika penyebaran tidak segera dikendalikan, para ahli memperingatkan bahwa risiko penularan dapat merambah hingga keluar dari kawasan Afrika.

Negara-negara yang masuk dalam daftar rentan tersebut meliputi Angola, Burundi, Republik Afrika Tengah, Republik Kongo, Ethiopia, Kenya, Rwanda, Sudan Selatan, Tanzania, dan Zambia. Kesepuluh negara ini berada dalam posisi geografis yang berdekatan dengan zona wabah aktif, sehingga memperbesar kemungkinan masuknya virus melalui jalur darat maupun udara.

Penyakit Virus Ebola (EVD) atau yang juga dikenal sebagai demam berdarah Ebola pertama kali diidentifikasi di Afrika Tengah. Menurut keterangan Kementerian Kesehatan, virus ini menular melalui kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh hewan yang terinfeksi, seperti monyet atau kelelawar. Kelelawar buah, misalnya, dapat menjadi inang tanpa menunjukkan gejala, tetapi mampu menularkan virus kepada manusia. Dari satu pasien, penyakit ini kemudian dapat menyebar ke orang-orang di sekitarnya melalui kontak fisik.

Masa inkubasi virus berkisar antara dua hingga 21 hari, dengan rentang paling umum antara empat hingga sepuluh hari. Sebuah fakta yang perlu diwaspadai adalah bahwa pria yang dinyatakan sembuh dari Ebola masih dapat menularkan virus melalui air mani hingga hampir dua bulan setelah pemulihan. Diagnosis penyakit ini ditegakkan melalui pengujian sampel darah untuk mendeteksi antibodi virus, RNA virus, atau virus itu sendiri.

Hingga saat ini, belum ditemukan pengobatan khusus yang dapat menyembuhkan Ebola secara langsung. Penanganan yang diberikan bersifat suportif, seperti terapi rehidrasi oral atau pemberian cairan intravena untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang. Tingkat kematian akibat penyakit ini tergolong sangat tinggi, yakni berkisar antara 50 hingga 90 persen dari total kasus yang terinfeksi.

Upaya pencegahan menjadi kunci utama dalam mengendalikan penyebaran virus. Langkah-langkah yang direkomendasikan meliputi pemeriksaan hewan seperti monyet dan babi terhadap infeksi, pemusnahan hewan yang terpapar, serta memasak daging hingga matang sempurna. Selain itu, kebersihan tangan juga menjadi faktor krusial, terutama bagi mereka yang berada di sekitar penderita. Sampel cairan dan jaringan tubuh dari pasien harus ditangani dengan prosedur yang sangat ketat untuk menghindari penularan lebih lanjut.

Gejala awal Ebola sering kali mirip dengan influenza biasa. Penderita tiba-tiba merasa lemas, kehilangan nafsu makan, dan mengalami nyeri otot serta sendi. Demam biasanya melonjak di atas 38,3 derajat Celsius, disertai sakit tenggorokan. Dalam banyak kasus, gejala berlanjut menjadi muntah-muntah, diare, dan sakit perut bagian atas maupun bawah. Sekitar separuh dari jumlah penderita mengalami ruam kulit yang muncul lima hingga tujuh hari setelah gejala pertama.

Pada tahap yang lebih parah, penderita dapat mengalami sesak napas, nyeri dada, pembengkakan atau edema, serta penurunan kesadaran. Pendarahan internal dan eksternal juga menjadi ciri khas Ebola, biasanya terjadi lima hingga tujuh hari setelah gejala awal. Virus ini mengganggu proses pembekuan darah, sehingga penderita rentan mengalami pendarahan dari selaput mulut, hidung, tenggorokan, hingga bekas suntikan. Akibatnya, muntah darah, batuk darah, dan buang air besar bercampur darah kerap terjadi. Mata yang memerah akibat pendarahan juga dapat diamati, meskipun pendarahan hebat jarang terjadi dan biasanya terbatas pada saluran pencernaan.

Risiko kematian pada penderita Ebola meningkat drastis apabila terjadi syok akibat tekanan darah rendah karena kekurangan cairan, atau pendarahan hebat yang tidak tertangani. Kedua kondisi ini menjadi ancaman utama yang harus diwaspadai oleh tenaga medis di lapangan.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar