PT PLN (Persero) melaporkan telah merealisasikan proyek pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan (EBT) dengan total kapasitas mencapai 22,57 gigawatt (GW), atau setara dengan 43 persen dari target yang dicanangkan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034. Angka ini menunjukkan bahwa eksekusi proyek energi bersih terus berjalan seiring dengan komitmen perusahaan dalam transisi energi nasional.
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, mengungkapkan capaian tersebut dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XII di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis. Ia menjelaskan bahwa dari total kapasitas pembangkit EBT yang telah dieksekusi, sebanyak 0,78 GW sudah berhasil beroperasi penuh.
“Jadi, dari 52,8 GW, itu 43 persennya itu pembangkit berbasis EBT ini sudah dalam proses eksekusi. Kami diminta untuk laporan setiap dua minggu,” ujar Darmawan.
Dalam paparannya, Darmawan merinci bahwa dari 22,57 GW yang tengah dikerjakan, sebanyak 16,5 GW masih dalam tahap pengadaan, 5,2 GW memasuki fase konstruksi, dan sisanya telah memasuki tahap komisioning. Sementara itu, proyek dengan kapasitas 30,24 GW lainnya masih dalam proses penyelesaian kajian kelayakan.
“Sebesar 16,5 GW itu proses pengadaan, konstruksi 5,2 GW, kemudian commissioning, sudah kami deliver 0,78 GW,” tambahnya.
RUPTL PLN 2025–2034 sendiri menargetkan penambahan kapasitas pembangkit baru sebesar 69,5 GW. Dari jumlah tersebut, 76 persen atau sekitar 52,8 GW berasal dari energi terbarukan seperti tenaga surya, air, angin, dan panas bumi, yang didukung oleh sistem penyimpanan energi berupa baterai dan pumped-storage hydropower.
“Dalam RUPTL itu, 76 persennya berbasis energi baru terbarukan dan juga baterai energy storage system, yaitu 52,8 GW,” jelas Darmawan.
Di sisi lain, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat realisasi bauran energi pembangkit tenaga listrik dari EBT mencapai 17,89 persen per April 2026. Angka ini melampaui target yang ditetapkan sebesar 16,46 persen. Plt. Direktur Jenderal Ketenagalistrikan, Tri Winarno, menilai capaian tersebut mencerminkan bahwa transisi energi di Indonesia terus berjalan secara bertahap.
Secara keseluruhan, produksi listrik nasional hingga April 2027 mencapai 165,51 terawatt hour (TWh). Komposisi bauran energi dari produksi tersebut masih didominasi oleh batu bara sebesar 64,87 persen, diikuti gas sebesar 13,86 persen, bahan bakar minyak (BBM) sebesar 3,38 persen, dan EBT sebesar 17,89 persen.
“Bauran energi nasional mencerminkan adanya upaya transisi energi yang terus berjalan,” kata Tri Winarno.
Artikel Terkait
Operasi Katarak Gratis di NTT Pulihkan Penglihatan Warga Lansia, Berkat Kolaborasi Kementerian Sosial dan Mitra
Ketua AMI Dorong Pembentukan UU Permuseuman demi Perkuat Fondasi Kebudayaan Bangsa
Betrand Peto Buka Suara soal Konflik Ruben Onsu dan Sarwendah, Ungkap Ayah Sering Direndahkan
Polisi Dipecat karena Jadi ‘Sniper’ Pengawas Kampung Narkoba di Samarinda