Seorang tokoh perempuan adat dan pegiat lingkungan asal Merauke, Yasinta Moiwend, yang akrab disapa Mama Sinta, melaporkan Ketua Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Papua Merauke berinisial JTW ke Polda Metro Jaya. Laporan itu diajukan terkait dugaan pelanggaran dalam pemutaran film berjudul “Pesta Babi” yang menampilkan dirinya tanpa izin.
Laporan tersebut telah terdaftar dengan nomor LP/B/3843/V/2026/SPKT/Polda Metro Jaya pada 29 Mei 2026. Dalam laporan itu, JTW dijerat dengan Pasal 65 juncto Pasal 67 Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi. Penasihat hukum Mama Sinta, Hamonangan Daulay, menjelaskan bahwa laporan ini bersifat personal dan menyasar individu, bukan institusi.
“Ini yang kita laporkan adalah untuk perorangan. Perorangan, ada Ketua LBH Merauke. Ketua LBH Merauke, ya. Jhon, ini inisialnya adalah JTW,” ujar Hamonangan kepada wartawan di gedung Ditreskrimum Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Jumat (29/5/2026).
Mama Sinta mengaku sakit hati setelah mengetahui wajahnya muncul dalam film “Pesta Babi” yang diputar di berbagai tempat. Ia menegaskan tidak pernah memberikan izin kepada pihak pembuat film untuk menggunakan gambar dirinya. “Mereka putar film Pesta Babi itu di mana-mana, saya sakit hati, saya kecewa sekali. Tanpa izin dari saya, tanpa pembicaraan. Itu penjahat itu mereka,” tuturnya dengan nada kesal.
“Saya punya wajah ini di mana-mana mereka putar film itu, saya sakit hati. Tanpa izin dari saya. Maka itu saya datang ke Jakarta. Jadi, itu saja yang saya sampaikan,” lanjutnya.
Mama Sinta menceritakan awal mula keterlibatannya dalam film tersebut. Ia mengaku mengetahui dirinya ditampilkan dalam “Pesta Babi” saat diajak menonton oleh seorang pria bernama Tigor di Jayapura. “Yang ajak saya ke Jayapura untuk ikut kegiatan itu, itu Bang Tigor. Jadi, setelah kita selesai kegiatan, dia ajak kita untuk nonton film Pesta Babi. Jadi, pada saat itu, saya tahu saja mau potong babi betulan, ternyata kita naik di Aula Maranatha, ternyata film yang diputar itu judulnya film Pesta Babi. Ah, di situ ada wajah saya,” ungkapnya.
“Ah, di situ saya lihat sendiri, saya saksikan sendiri, kenapa wajah saya ditampilkan di depan banyak orang tanpa seizin dari saya? Itu yang saya sakit hati dan sakit jiwa sekali bersama keluarga saya,” imbuhnya.
Ia menegaskan tidak pernah mengetahui akan dilibatkan dalam film tersebut. Perasaan kaget dan kecewa langsung muncul ketika ia menyaksikan sendiri kemunculan wajahnya di layar. “Tidak pernah (tahu dilibatkan dalam film). Tidak ada sama sekali (ungkapan dilibatkan dalam film). Saya kaget pada saat nonton itu tanggal 8 bulan 4. Saya sendiri ketemu itu wajah saya di situ, pada saat mereka putar film itu, Pesta Babi,” ujarnya.
Sementara itu, sutradara film “Pesta Babi”, Dandhy Laksono, melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, menyampaikan tanggapan terkait protes dari Mama Sinta. Ia mengaku tidak mengetahui secara pasti apa yang tengah dialami oleh Mama Sinta di pedalaman Papua. “Kawan-kawan semua, kita tak pernah benar-benar tahu apa yang sedang dialami Yasinta Moiwend di pedalaman Papua sana. Apa pun yang muncul di media sosial, sepertinya kita perlu menahan diri untuk tidak menghakimi beliau. Bahkan jika semua yang disampaikan murni atas kehendak sendiri, bukan kah setiap orang berhak membuat pilihan?” tulis Dandhy dalam unggahannya.
Artikel Terkait
Baznas Salurkan Daging Dam Haji ke Warga Kurang Mampu di Pemalang
Dewan Bisnis Tingkat Tinggi Indonesia-Prancis Resmi Diluncurkan, Targetkan Perdagangan Tiga Kali Lipat pada 2035
Api Dharma Mrapen Tiba di Candi Mendut, Tandai Awal Rangkaian Prosesi Waisak 2026
Satgas Desak Kementerian Percepat Administrasi dan Revisi Anggaran demi Rehabilitasi Pascabencana di Sumatera