Puluhan Ribu Warga Serbia Banjiri Beograd, Desak Pemilu Dini di Tengah Gelombang Protes Antikorupsi

- Minggu, 24 Mei 2026 | 10:40 WIB
Puluhan Ribu Warga Serbia Banjiri Beograd, Desak Pemilu Dini di Tengah Gelombang Protes Antikorupsi

Puluhan ribu warga Serbia membanjiri pusat kota Beograd dalam gelombang demonstrasi besar-besaran yang menuntut percepatan pemilihan umum dan mengkritik keras kebijakan pemerintah. Aksi unjuk rasa yang berlangsung pada Sabtu itu menjadi puncak dari akumulasi kemarahan publik yang telah berlangsung berbulan-bulan, dipicu oleh tragedi dan tuntutan transparansi dalam pemberantasan korupsi.

Akar protes ini dapat ditelusuri hingga November 2024, ketika sebuah bencana di stasiun kereta api Novi Sad merenggut nyawa 16 orang. Peristiwa memilukan itu memicu gelombang demonstrasi antikorupsi yang menuntut penyelidikan transparan. Tekanan publik yang begitu kuat pada akhirnya memaksa Perdana Menteri saat itu, Milos Vucic, untuk mengundurkan diri dari jabatannya.

Sementara itu, Presiden Serbia Aleksandar Vucic merespons gerakan protes dengan tindakan tegas terhadap para demonstran. Kini, mahasiswa telah mengambil alih kepemimpinan gerakan antikorupsi ini, mengubahnya menjadi sebuah kampanye masif yang secara langsung mendesak Presiden Vucic untuk mengadakan pemilihan umum dini. Para pengunjuk rasa memadati Lapangan Slavija, lokasi yang sama yang menjadi saksi demonstrasi besar pada Maret 2025 lalu.

Dalam pernyataannya, Presiden Vucic mengindikasikan bahwa pemungutan suara dapat digelar antara September dan November tahun ini. Namun, para demonstran yang membanjiri alun-alun pusat ibu kota dari berbagai penjuru tetap melanjutkan aksinya. Banyak dari mereka terlihat membawa spanduk dan mengenakan kaos bertuliskan moto “Mahasiswa Menang”, simbol dari gerakan pemuda yang kini menjadi motor penggerak protes.

Konvoi kendaraan dari berbagai kota di Serbia mulai memasuki Beograd pada Sabtu pagi, menambah massa yang sudah berkumpul. Aksi unjuk rasa pada Maret 2025 lalu di lokasi yang sama berakhir dengan gangguan mendadak yang, menurut para ahli, melibatkan penggunaan senjata sonik terhadap demonstran damai sebuah klaim yang dengan tegas dibantah oleh pemerintah Serbia.

Di tengah ketegangan ini, para mahasiswa menyatakan tekad mereka untuk menantang Presiden Vucic dalam pemilihan umum yang dijadwalkan akhir tahun ini atau tahun depan. Mereka optimistis dapat menggulingkan pemerintahan populis sayap kanan yang telah lama berkuasa, menjadikan momen ini sebagai titik balik bagi masa depan politik Serbia.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar