Panglima Tertinggi Sekutu NATO untuk Eropa, Jenderal Alexus Grynkewich, mengakui bahwa pihaknya tengah mempertimbangkan kemungkinan keterlibatan aliansi dalam menjaga stabilitas di Selat Hormuz. Meski demikian, ia menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada perencanaan formal yang dimulai karena masih menunggu keputusan politik dari para pemimpin negara anggota.
“Apakah saya memikirkannya? Tentu saja. Tetapi belum ada perencanaan apa pun sampai keputusan politik diambil,” ujar Grynkewich kepada wartawan, sebagaimana dilansir kantor berita AFP pada Rabu (20/5/2026).
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan akibat konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran yang berujung pada penutupan Selat Hormuz. Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump secara terbuka mengecam negara-negara sekutu Eropa di NATO karena dinilai kurang tanggap terhadap situasi perang yang telah melumpuhkan jalur pelayaran strategis tersebut.
Di sisi lain, sejumlah negara Eropa yang dipimpin oleh Inggris dan Prancis telah bergerak lebih awal. Mereka berupaya menyusun rencana operasi yang memungkinkan keterlibatan mereka dalam menjaga selat tetap terbuka, setidaknya jika konflik bersenjata berakhir. Namun, secara kelembagaan, NATO selama ini menghindari keterlibatan langsung dalam konflik tersebut, meskipun ada tekanan berulang dari Washington.
Menurut Grynkewich, setiap negara anggota saat ini sedang mempertimbangkan respons masing-masing. Beberapa di antaranya, seperti Belgia, Prancis, Jerman, Italia, dan Inggris, telah mengirimkan kapal perang ke wilayah perairan tersebut. “Kita semua sepakat bahwa ini adalah demi kepentingan kita untuk memastikan kebebasan navigasi di perairan internasional,” imbuhnya.
Sementara itu, para diplomat Eropa di markas besar NATO cenderung meremehkan prospek aliansi memainkan peran utama di Selat Hormuz, mengingat adanya perpecahan internal di antara negara anggota. Namun, mereka tidak menutup kemungkinan bahwa NATO dapat terlibat secara terbatas dalam operasi yang dipimpin oleh Prancis atau Inggris, jika operasi semacam itu benar-benar terwujud.
Penutupan Selat Hormuz telah memberikan dampak signifikan terhadap harga energi global. Tekanan ekonomi mulai terasa di kawasan Eropa, yang sangat bergantung pada pasokan minyak dari Teluk Persia melalui jalur tersebut.
Artikel Terkait
Pentagon Kurangi Jumlah Brigade Tempur di Eropa, Penundaan Pengerahan ke Polandia Dikonfirmasi
Korban Penyiraman Air Keras Andrie Yunus Sudah Jalani Rawat Jalan Sejak 16 April
Prabowo Janjikan Cold Storage di Setiap Desa Nelayan Demi Jaga Kualitas Ikan
J&T Express Rilis Laporan ESG 2025, Catat Penghematan Energi dan Perlindungan Hak Karyawan