Iran Dikabarkan Latih Lumba-Lumba Bawa Ranjau untuk Serang Kapal Perang AS

- Sabtu, 16 Mei 2026 | 16:10 WIB
Iran Dikabarkan Latih Lumba-Lumba Bawa Ranjau untuk Serang Kapal Perang AS

Sebuah pertanyaan yang tidak biasa muncul dalam konferensi pers Pentagon pada Selasa (05/05) yang membahas ketegangan militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran: apakah Iran menggunakan lumba-lumba bunuh diri dalam strategi perangnya? Pertanyaan tersebut dilontarkan oleh seorang reporter dari The Daily Wire kepada Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, meminta tanggapan resmi atas laporan yang beredar mengenai pemanfaatan mamalia laut sebagai senjata.

“Saya tidak dapat mengonfirmasi maupun menyangkal keberadaan lumba-lumba bunuh diri milik kami sendiri, tetapi saya dapat memastikan bahwa mereka tidak memiliki hal semacam itu,” ujar Hegseth. Sementara itu, Jenderal Dan Caine, Ketua Kepala Staf Gabungan AS, mengaku belum pernah mendengar laporan serupa. Ia bahkan berkelakar, “Ini terdengar seperti cerita tentang hiu yang dilengkapi sinar laser, bukan?”

Pernyataan kedua pejabat tinggi tersebut merujuk pada sebuah artikel yang diterbitkan The Wall Street Journal lima hari sebelumnya. Dalam laporan berjudul “Iran Is Looking for a Way to Counter a Blockade It Cannot Break,” disebutkan bahwa blokade angkatan laut AS telah membuka celah strategis Iran di Selat Hormuz. Untuk menutupi kelemahan itu, Teheran disebut tengah mencari cara-cara baru, termasuk kemungkinan penggunaan senjata yang belum pernah digunakan sebelumnya.

“Pejabat Iran telah menyatakan bahwa Teheran mungkin menggunakan senjata yang belum pernah digunakannya untuk menyerang kapal perang Amerika Serikat, mulai dari kapal selam hingga lumba-lumba yang membawa ranjau,” tulis The Wall Street Journal. Laporan itu juga menyebutkan bahwa Korps Garda Revolusi Islam telah mengancam akan memutus kabel serat optik di Selat Hormuz, sebuah langkah yang berpotensi mengganggu lalu lintas internet global.

Meskipun terdengar seperti skenario fiksi ilmiah, penggunaan lumba-lumba untuk keperluan militer bukanlah hal baru. Praktik ini memiliki sejarah yang membentang puluhan tahun. Pada 8 Maret 2000, BBC melaporkan bahwa Iran telah membeli lumba-lumba yang sebelumnya dilatih oleh Angkatan Laut Soviet. Menurut laporan tersebut, Boris Zhurid, seorang mantan perwira kapal selam yang beralih profesi menjadi pelatih mamalia laut, menjual hewan-hewan itu kepada Iran karena tidak mampu lagi menanggung biaya pakan dan perawatan mereka.

“Jika saya orang yang kejam, saya bisa saja tetap tinggal di Sevastopol. Namun saya tidak tahan melihat hewan-hewan saya kelaparan. Obat-obatan kami, yang harganya ribuan dolar, telah habis, dan kami tidak lagi memiliki ikan atau suplemen gizi,” kata Zhurid kepada surat kabar Rusia Komsomolskaya Pravda saat itu.

Total 27 hewan, termasuk walrus, singa laut, anjing laut, dan seekor paus beluga putih, bersama dengan lumba-lumba, dipindahkan dari Sevastopol di Semenanjung Krimea ke Teluk Persia menggunakan pesawat kargo. Sebanyak empat ekor lumba-lumba dan paus putih tersebut sebelumnya telah dilatih oleh Zhurid di sebuah pangkalan Angkatan Laut Rusia di Samudra Pasifik sebelum dipindahkan ke Krimea pada 1991. Hewan-hewan itu telah belajar menyerang penyelam musuh dengan tombak yang dipasang di punggung mereka, atau menyeret mereka ke permukaan untuk ditangkap.

Di sisi lain, Amerika Serikat juga memiliki program mamalia laut militer yang terkenal, yang dijalankan di San Diego, California. Setelah invasi Irak pada 2003, Angkatan Laut AS menggunakan lumba-lumba terlatih untuk mengidentifikasi dan membersihkan ranjau di Teluk Persia. Lumba-lumba tersebut juga mampu menyerang kapal musuh dalam misi bunuh diri dengan membawa ranjau yang akan meledak saat bersentuhan dengan lambung kapal. Dikatakan bahwa lumba-lumba ini dapat membedakan kapal selam Soviet dan kapal selam asing berdasarkan suara baling-balingnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, muncul laporan tidak resmi tentang upaya serupa oleh sejumlah negara, termasuk Korea Utara. Citra satelit dilaporkan menunjukkan kandang penampungan lumba-lumba di Korea Utara, memicu spekulasi tentang peluncuran program militer serupa di Pyongyang. Namun demikian, Rusia dan Amerika Serikat masih dianggap memiliki program mamalia laut militer yang paling maju dan tertua. Sejak serangannya ke Ukraina, Rusia bahkan disebut telah meningkatkan penggunaan lumba-lumba militer di pelabuhan Sevastopol untuk menghadapi penyelam musuh dan melindungi armada lautnya di Laut Hitam.

Mantan Presiden Iran, Akbar Hashemi Rafsanjani, pernah menulis tentang peristiwa pada 2 April 2000 dalam memoarnya, Reforms in Crisis. Ia menceritakan kunjungannya ke sebuah hotel di Pulau Kish tempat kolam-kolam hewan laut hampir selesai dibangun. “Sejumlah walrus, singa laut, anjing laut, serta lumba-lumba telah diimpor dari Ukraina,” tulisnya. Rafsanjani membantah laporan media Barat yang mengklaim bahwa hewan-hewan itu telah menerima pelatihan militer. Ia mengatakan Iran telah mengajukan gugatan dan pengadilan akan segera mengambil tindakan.

Menurut Rafsanjani, sebagian besar lumba-lumba biasanya hidup sekitar empat puluh tahun dan melahirkan beberapa kali sepanjang hidupnya. Makanan mereka terdiri dari ikan, udang, dan daging laut lainnya. Ia juga mencatat bahwa sebagian besar hewan itu dibawa dari perairan dingin di bagian utara Samudra Arktik, sehingga pada musim panas air kolam perlu didinginkan. “Semua lumba-lumba tersebut cerdas dan menerima perintah pelatih mereka dengan baik serta melaksanakannya, namun ketika harus menampilkan musik, lumba-lumba tidak mengikuti perintah tersebut. Hal ini kemungkinan akan menjadi salah satu daya tarik paling populer di Kish,” katanya.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar