Dolar AS Menguat Tipis di Tengah Kebuntuan Diplomatik AS-Iran dan Kekhawatiran Inflasi

- Selasa, 12 Mei 2026 | 08:45 WIB
Dolar AS Menguat Tipis di Tengah Kebuntuan Diplomatik AS-Iran dan Kekhawatiran Inflasi

Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) mengalami penguatan tipis pada perdagangan Senin, 11 Mei 2026, didorong oleh meningkatnya permintaan terhadap aset aman di tengah kebuntuan diplomatik antara Washington dan Teheran. Para pelaku pasar juga mengambil sikap hati-hati menjelang rilis data inflasi AS pekan ini, yang diperkirakan akan menunjukkan dampak signifikan dari lonjakan harga minyak akibat konflik berkepanjangan di Timur Tengah.

Indeks dolar AS, yang mengukur pergerakan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, tercatat naik 0,1 persen ke level 97,96. Penguatan ini terjadi setelah akhir pekan lalu media pemerintah Iran mengumumkan bahwa Teheran telah secara resmi menanggapi proposal AS untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung lebih dari dua bulan. Dalam tanggapannya, Iran menuntut penghentian pertempuran di seluruh lini, pengakuan kedaulatan atas Selat Hormuz yang strategis, serta kompensasi atas kerusakan perang dari pihak AS.

Presiden Donald Trump langsung merespons negatif usulan tersebut. Melalui unggahan di media sosial, Trump menyatakan ketidaksetujuannya dan menyebut tanggapan Iran sebagai sesuatu yang "sama sekali tidak dapat diterima."

"Rencananya adalah mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir, dan mereka tidak mengatakan itu," ujar Trump kepada wartawan pada Senin, seraya menambahkan bahwa proposal dari Teheran itu "bodoh."

Trump juga mengklaim bahwa dua hari sebelumnya Iran telah setuju untuk mengakhiri program pengayaan nuklir dan meminta AS untuk mengeluarkan material nuklirnya yang ia sebut sebagai "debu nuklir." Namun, menurut presiden, Iran kemudian berubah pikiran dan tidak lagi menyertakan isu aktivitas nuklir dalam proposal yang dikirimkannya. Lebih lanjut, Trump menilai gencatan senjata yang saat ini berlangsung antara kedua negara berada dalam "kondisi kritis" dan "sangat lemah."

Di sisi lain, Thierry Wizman, ahli strategi valuta asing dan suku bunga global di Macquarie, menilai bahwa pemerintahan AS kemungkinan telah memutuskan untuk beralih ke strategi blokade ekonomi terhadap Iran. Menurutnya, pendekatan ini dinilai lebih efektif ketimbang melanjutkan serangan bom, sekaligus lebih menguntungkan secara domestik dan internasional.

"Selama harga minyak mentah tetap tinggi akibat blokade AS dan ancaman Iran terhadap lalu lintas kapal tanker di Teluk dolar AS akan tetap kuat. Dampak harga minyak yang tinggi terhadap perekonomian global lainnya akan jauh lebih merusak daripada dampak yang dialami AS. Dolar hanya akan berpeluang terdepresiasi lagi ketika harga minyak kembali normal, mungkin setelah tercapainya kesepakatan damai yang bertahan," jelas Wizman.

Sementara itu, perhatian para pelaku pasar mata uang juga tertuju pada laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) dan Indeks Harga Produsen (PPI) AS untuk bulan April yang akan dirilis pekan ini. Fokus utama adalah apakah lonjakan harga minyak akibat perang dengan Iran mulai terasa lebih nyata dalam data inflasi. Data CPI dan PPI Maret sebelumnya menunjukkan dampak besar pada angka utama, namun tidak terlalu signifikan pada angka inti yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi.

Brent Schutte, kepala investasi di Northwestern Mutual Wealth Management, menyatakan bahwa sektor energi akan menjadi sorotan utama. "Energi diperkirakan akan mendorong inflasi utama yang tinggi untuk bulan kedua berturut-turut. Kami mengamati apakah biaya energi yang tinggi mulai merembes ke dalam elemen inflasi CPI inti," ujarnya.

Schutte menambahkan bahwa data PPI akan memberikan gambaran tentang harga konsumen di masa mendatang. "PPI yang lebih rendah setelah CPI yang lebih tinggi dapat menandakan bahwa produsen sedang bersiap untuk meneruskan biaya baru ke bawah rantai pasokan," katanya.

Federal Reserve dan para pengamat kebijakan moneter juga akan mencermati data tersebut. Lonjakan besar pada CPI atau PPI akibat kenaikan harga minyak dapat memicu ekspektasi kenaikan suku bunga di masa mendatang. Suku bunga yang lebih tinggi umumnya akan memperkuat nilai tukar dolar AS.

Di kawasan Asia, yuan Tiongkok mencatat penguatan tipis terhadap dolar AS. Pasangan USD/CNY turun 0,1 persen menjadi 6,7948. Data pemerintah sebelumnya menunjukkan CPI Tiongkok tumbuh 1,2 persen secara tahunan pada bulan April, lebih tinggi dari perkiraan pasar sebesar 0,9 persen. Sementara itu, PPI April melonjak 2,8 persen secara tahunan, melampaui konsensus yang hanya 1,7 persen. Angka-angka ini mengindikasikan bahwa perang di Timur Tengah mulai mengimbangi tren deflasi yang telah lama mengakar di Tiongkok.

Di tempat lain, poundsterling melemah 0,1 persen menjadi 1,3620 dolar AS, sementara euro juga turun 0,1 persen ke level 1,1776 dolar AS. Pelemahan pound terjadi di tengah hasil pemilihan lokal pekan lalu yang menunjukkan kekalahan telak bagi Partai Buruh pimpinan Perdana Menteri Keir Starmer, sementara Partai Reformasi Inggris yang dipimpin Nigel Farage meraih keuntungan signifikan.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar