Kim Jong Un Diduga Siapkan Putrinya sebagai Penerus, Gaya Busana Kim Ju Ae Jadi Strategi Politik

- Rabu, 06 Mei 2026 | 15:30 WIB
Kim Jong Un Diduga Siapkan Putrinya sebagai Penerus, Gaya Busana Kim Ju Ae Jadi Strategi Politik

Pada November 2022, dunia untuk pertama kalinya diperkenalkan pada sosok Kim Ju Ae, putri pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, melalui sebuah foto propaganda yang menampilkannya berjalan di samping ayahnya di depan rudal balistik antarbenua yang menjulang tinggi. Dalam gambar tersebut, seorang anak perempuan berpakaian necis celana hitam dan jaket putih dengan rambut panjang diikat ke belakang tampak memikat, menandai debut publiknya yang ketika itu baru berusia sembilan tahun. Sejak momen itu, penampilannya terus berevolusi: gaya rambutnya semakin rumit, pakaiannya kian elegan dan canggih.

Badan intelijen Korea Selatan meyakini bahwa Kim Jong Un telah menetapkan Ju Ae, yang kini berusia 13 tahun, sebagai penerusnya. Ia semakin sering muncul di samping ayahnya dalam berbagai kesempatan kenegaraan, mulai dari peluncuran rudal, parade militer, hingga perjalanan ke luar negeri. Namun, sejumlah analis berpendapat bahwa perubahan mode busananya dari jaket kulit, mantel bulu, hingga gaya rambut yang mencolok bukan sekadar soal estetika, melainkan bagian dari strategi politik untuk mempersiapkannya memimpin negara.

Menurut para pengamat, busana Ju Ae kemungkinan besar dirancang oleh Departemen Propaganda dan Agitasi pemerintah Korea Utara. Dalam beberapa kesempatan, ia terlihat mengenakan setelan dan rok formal yang sangat mirip dengan ibunya, Ri Sol Ju. Wakil Direktur Sejong Institute, Cheong Seong-chang, kepada BBC Korean menjelaskan bahwa usia Ju Ae yang masih sangat muda dapat menjadi kelemahan bagi citra seorang pemimpin masa depan.

“Karena Ju Ae masih sangat muda, usianya bisa dilihat sebagai potensi kelemahan bagi seorang pemimpin masa depan. Tampaknya rezim mendandaninya dengan pakaian formal mirip dengan yang dikenakan ibunya sebagai cara untuk menutupi kemudaannya dan memproyeksikan citra yang lebih dewasa,” ujar Cheong.

Di sisi lain, saat mengunjungi pangkalan militer atau lokasi terjal, Ju Ae kerap mengenakan jaket kulit pakaian yang menurut Cheong memiliki kesan kuat sekaligus kasual. Gaya busananya pun sering kali serasi dengan ayahnya yang gemar mengenakan jaket kulit hitam dan mantel panjang. Strategi ini, yang dikenal sebagai “replikasi citra”, bukanlah hal baru dalam politik Korea Utara. Pada tahun-tahun awal kepemimpinannya, Kim Jong Un sendiri berupaya mengamankan legitimasi dengan berpakaian seperti kakeknya, Kim Il Sung, yang dipandang hampir seperti tuhan oleh rakyatnya.

Cheong menambahkan bahwa Departemen Propaganda dan Agitasi memainkan peran kunci dalam mengorkestrasi proses pemindahan rasa hormat dari Kim Il Sung kepada Kim Jong Un. “Dikatakan bahwa warga Korea Utara terkejut ketika Kim Jong Un pertama kali muncul. Namun alasan para pakar Korea Selatan juga terkejut adalah karena sekilas pertama Kim Jong Un terlihat sangat mirip dengan Kim Il Sung muda. Keterbatasan yang dihadapi Kim Jong Un muda sebagai seorang penerus, seperti kurangnya pengalaman dan usia, dapat ditutupi semata-mata oleh fakta bahwa ia menyerupai Kim Il Sung. Bahkan, beredar rumor di kalangan warga Korea Utara bahwa Kim Il Sung telah bereinkarnasi,” jelasnya.

Selain memperkuat legitimasi, penggunaan pakaian gaya Barat oleh Ju Ae dan ibunya juga menjadi alat “strategi diferensiasi”. Cheong menegaskan bahwa dengan mengenakan jaket kulit dan mantel bulu, kedudukan sosial mereka secara fundamental berbeda dari warga biasa. “Mengenakan pakaian berbahan kulit berkualitas tinggi adalah cara untuk memamerkan status istimewa seseorang. Pakaian kulit tidak begitu umum di kalangan warga Korea Utara. Merek-merek mewah, jaket kulit, dan mantel bulu adalah pakaian berharga yang tidak bisa dikenakan oleh warga Korea Utara biasa,” katanya.

Perkembangan mode Ju Ae sangat kontras dengan pengetatan kontrol terhadap warga awam. Pada 2020, Korea Utara memberlakukan Undang-Undang Penolakan Ideologi dan Budaya Reaksioner yang memblokir budaya eksternal. Namun pada 2023, Kantor Berita Pusat Korea justru merilis video Ju Ae kembali berjalan di samping ayahnya di depan rudal balistik antarbenua kali ini mengenakan jaket hitam buatan rumah mode mewah Prancis, Christian Dior, senilai sekitar 1.900 dolar AS atau Rp33 juta. Setahun kemudian, ia tampil dengan blus yang memperlihatkan lengannya dalam sebuah upacara kenegaraan di Pyongyang.

Ironisnya, sebuah pengumuman dalam format video kemudian disiarkan kepada warga biasa, memperingatkan bahwa gaya rambut dan busana semacam itu tidak boleh ditiru. Sebab, menurut seorang sumber lokal kepada Radio Free Asia, gaya tersebut merupakan “fenomena anti-sosialis dan non-sosialis yang mengaburkan citra sistem sosialis dan menggerogoti rezim target yang harus diberantas.”

Insiden-insiden ini menyoroti bagaimana keluarga Kim, yang diperlakukan hampir seperti tuhan, sering dikecualikan dari aturan yang berlaku bagi masyarakat umum. Profesor Lee Woo-young dari University of North Korean Studies mencontohkan, meskipun celana jins dilarang di Korea Utara karena dianggap sebagai mode Barat, Kim Jong Un pernah tampil mengenakannya. “Sekuat apapun mereka melarang budaya asing dan bahkan memberlakukan undang-undang, Korea Utara adalah tempat di mana tidak ada hal yang tidak bisa dilakukan oleh pemimpin tertinggi,” ujarnya.

Meski ada larangan, sebagian warga Korea Utara justru ingin mengikuti gaya keluarga Kim. Laporan menyebutkan adanya peningkatan peredaran barang-barang mewah seperti kosmetik dan parfum Chanel di kalangan warga kaya. Mantel bulu menjadi populer di kota yang berbatasan dengan China. Foto-foto anak-anak di taman kanak-kanak bergengsi yang mengenakan blus tembus pandang, serta laporan tentang kacamata hitam dan mantel panjang kulit mirip dengan yang dikenakan Ju Ae dan Kim Jong Un, mulai beredar di kalangan muda berduit. Sebelumnya, pernah ada laporan tentang pria muda yang menata rambut seperti Kim Jong Un.

Dengan akses yang sangat terbatas terhadap informasi dari dunia luar, pemimpin Korea Utara secara tak terduga telah menjadi ikon mode bagi rakyatnya. Kini, putrinya tampaknya juga mengikuti jejak yang sama.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar