Perumda Sewakadarma Operasikan Mesin Pencacah Sampah Organik di Enam Pasar Tradisional Denpasar

- Kamis, 30 April 2026 | 22:00 WIB
Perumda Sewakadarma Operasikan Mesin Pencacah Sampah Organik di Enam Pasar Tradisional Denpasar

Penulis: Sugiarta


TVRINews – Denpasar

Ada angin segar di pengelolaan sampah pasar tradisional Denpasar. Perumda Pasar Sewakadarma mulai mengoperasikan mesin pencacah sampah organik di enam pasar utama. Tujuannya jelas: mengurangi ketergantungan pada TPA, dan menekan volume sampah sejak dari sumbernya.

Enam pasar yang sudah kebagian fasilitas ini antara lain Pasar Badung, Pasar Kumbasari, Pasar Kereneng, Pasar Sanglah, Pasar Cokroaminoto, dan Pasar Anyarsari. Kehadiran mesin ini cukup krusial, mengingat pasar tradisional selama ini jadi salah satu penyumbang sampah organik terbesar di perkotaan. Sisa sayur dan buah, ya itu yang paling dominan.

I Wayan Pujana, Kepala Sub Kebersihan Pasar Cokroaminoto, bilang pihaknya sekarang lebih fokus pada sampah yang masih tercecer. Tapi bukan berarti aturan lama ditinggalkan begitu saja.

“Pedagang, terutama yang pakai kendaraan, tetap kami sarankan bawa pulang sampahnya. Kelola sendiri. Kalau yang ninggalin sampah di pasar, ya wajib sudah dipilah,” ujarnya.

Nah, untuk sampah anorganik, mereka kerja sama dengan pengepul. Sementara sampah organik diolah lewat dua jalur: dibawa ke fasilitas pengolahan seperti Teba Modern khususnya sisa buah atau diolah langsung di pasar pakai mesin pencacah.

Di Pasar Cokroaminoto sendiri, kapasitas pengolahan sekarang sekitar enam keranjang per hari. Satu keranjang beratnya sekitar 15 kilogram. Hasil cacahan itu kemudian difermentasi pakai aktivator semacam EM4 sampai jadi kompos.

Dari proses itu, mereka bisa menghasilkan 4 sampai 6 kampil kompos per hari. Satu kampil beratnya sekitar 25 kilogram. Kompos ini nggak dijual, lho. Dibagikan gratis ke pedagang yang juga petani sayur.

Saat ini ada dua pedagang yang rutin ambil kompos itu. Masing-masing bawa pulang sekitar 15 kampil per hari buat dipakai lagi di lahan pertanian mereka.

Langkah ini sejalan dengan upaya Pemerintah Kota Denpasar yang mendorong pengelolaan sampah berbasis sumber dan ekonomi sirkular. Limbah organik diolah balik jadi produk yang punya nilai guna. Lumayan kan?

Meski hasilnya mulai positif, tantangan tetap ada. Disiplin pedagang dalam memilah sampah masih jadi PR. Belum lagi kapasitas mesin yang terbatas belum mampu ngolah semua sampah harian pasar.

Tapi dengan penguatan sistem, pengawasan ketat, dan edukasi yang berkelanjutan, pengelolaan sampah mandiri di pasar tradisional ini diharapkan bisa jadi model efektif. Setidaknya buat ngurangin beban TPA dan menjawab persoalan sampah perkotaan di Bali.


Editor: Redaksi TVRINews

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar