El Nino Picu Krisis Ekologis, Satwa Liar Terdesak Masuk ke Permukiman Warga

- Kamis, 30 April 2026 | 14:15 WIB
El Nino Picu Krisis Ekologis, Satwa Liar Terdesak Masuk ke Permukiman Warga

Jakarta El Nino datang lagi. Dan kali ini, bukan cuma soal cuaca panas atau kemarau panjang. Fenomena iklim ini, menurut para ahli, bisa memicu krisis ekologis yang cukup serius di Indonesia. Habitat satwa liar terancam terganggu. Imbasnya? Potensi konflik antara manusia dan hewan liar meningkat.

Abdul Haris Mustari, dosen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata IPB University, punya penjelasan soal ini. Menurut dia, El Nino bikin curah hujan turun drastis. Akibatnya, kemarau berkepanjangan dan lingkungan jadi lebih kering dari biasanya.

Dampaknya nggak cuma dirasain kita, manusia. Satwa liar di habitat aslinya juga ikut kena imbasnya. Bahkan, mungkin lebih parah.

"Secara langsung, peningkatan suhu lingkungan dan kekeringan menyebabkan berkurangnya ketersediaan pakan dan air bagi satwa liar," ujar Mustari, dalam keterangan yang dikutip dari laman resmi IPB University, Kamis, 30 April 2026.

Satwa Kehilangan Sumber Makanan

Mustari bilang, produktivitas tumbuhan pakan entah itu buah, daun, atau tumbuhan bawah ikut menurun. Ini jelas berdampak pada kelangsungan hidup satwa. Mereka jadi kelimpungan. Sumber daya terbatas, sementara kebutuhan tetap jalan.

Alhasil, banyak satwa yang terpaksa melebarkan wilayah jelajahnya. Mereka keluar dari habitat hutan, masuk ke area perkebunan, bahkan sampai ke permukiman warga. Cuma buat cari makan dan air.

"Satwa dapat keluar dari habitat hutan menuju area perkebunan bahkan permukiman manusia untuk mencari makan dan air. Kondisi ini meningkatkan potensi konflik antara manusia dan satwa liar," jelasnya.

Nggak cuma itu. Gangguan habitat juga bikin ekosistem secara keseluruhan goyah. Apalagi kalau kemarau panjang disertai kebakaran hutan. Situasinya makin parah. Habitat hancur, populasi satwa berkurang, proses reproduksi terganggu, dan penyebaran biji tanaman jadi kacau.

"Ketika rantai makanan terganggu dan regenerasi hutan terhambat, maka keseimbangan ekosistem akan ikut terguncang," katanya.

Penanganan dan Pencegahan Konflik

Nah, soal meningkatnya interaksi satwa liar dengan manusia, masyarakat diminta tetap tenang. Jangan gegabah. Kalau nemu satwa berkeliaran, laporkan saja ke pihak berwenang. Aparat setempat atau Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) bisa dihubungi.

"Dalam situasi darurat, satwa dapat diusir secara aman menggunakan alat sederhana tanpa melukai atau membunuhnya," ucap Mustari.

Untuk pencegahan jangka panjang, Mustari ngingetin pentingnya menjaga kelestarian habitat alami. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan tokoh lokal itu penting banget. Tujuannya jelas: mencegah kerusakan hutan dan ningkatin kesadaran soal pentingnya ekosistem.

"Menjaga hutan berarti menjaga kehidupan secara keseluruhan. Kepunahan satu spesies dapat berdampak pada hilangnya keseimbangan kehidupan lainnya, termasuk manusia," terangnya.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar