Keluarga Korban Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur Sempat Berpencar Cari Arinjani ke Sejumlah RS

- Rabu, 29 April 2026 | 14:25 WIB
Keluarga Korban Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur Sempat Berpencar Cari Arinjani ke Sejumlah RS

Arinjani Novita Sari, 25 tahun, jadi salah satu korban dalam kecelakaan Kereta Api Argo Bromo Anggrek yang menabrak KRL di Stasiun Bekasi Timur. Keluarganya sempat kalang kabut, berpencar mencari keberadaan Arinjani ke berbagai rumah sakit di Bekasi. Nggak ada yang nyangka, malam itu jadi malam terakhir mereka bisa ngobrol sama dia.

Yani (54), ibu Arinjani, masih ingat betul detik-detik sebelum anaknya hilang kontak. Malam itu, Arinjani masih sempat bertukar pesan dengan tantenya. Isinya ringan, soal pempek mau digorengin atau nggak. Tapi setelah itu, nggak ada balasan lagi.

"Adik saya jawab lagi 8.52 malam itu, Mas. 'Ada pempek mau digorengin nggak?' Nggak dijawab, Mbak. Kita telepon kok nggak diangkat. 'Apa anaknya tidur?' kita mikirnya mah ini aja gitu," kata Yani, usai pemakaman Arinjani di TPU Mangun Jaya, Kabupaten Bekasi, Rabu (29/4/2026).

Kecemasan keluarga mulai memuncak saat kakak Arinjani dengar kabar soal kecelakaan kereta di Bekasi Timur. Dari situ, Yani langsung gemeteran. Dia coba terus nelpon anaknya, tapi nggak bisa.

"Kakaknya itu kan kerja. Dia ngabarin, 'dengar kabar Tan, Arin udah pulang belum?' 'Belum', dibilang gitu. 'Itu ada kecelakaan di Bekasi Timur'. Ya Allah kita udah gemeteran, Mbak. Gimana nih? Ditelepon balik terus nggak bisa, Mbak. Nggak bisa dihubungin lagi. (pukul) 20.52 itu setelah balas WA lagi itu nggak dibalas. Udah nggak bisa dihubungin, tapi nomor itu aktif, berdering terus gitu," katanya.

Keluarga langsung bergerak. Ada yang ke lokasi kecelakaan, ada yang ke posko di Stasiun Bekasi Timur. Mereka juga berpencar ke rumah sakit-rumah sakit. Tapi anehnya, nama Arinjani nggak ada di data korban yang dirawat. Nggak ada di mana-mana.

"Sampai pagi, bapaknya sama adik saya langsung ke Bekasi Timur, ke posko. Kita lihat datanya, 'kok di rumah sakit Bekasi nggak ada?' 'Ayo kita nyari aja, kita memencar'. Kita keluarga memencar, Mbak. Rumah sakit ini, rumah sakit itu, semua Bekasi kita puterin. Sampai pagi pun ikut kita cari lagi," katanya.

Barulah setelah pihak KRL memastikan evakuasi terakhir selesai, ada titik terang. Mereka ngasih tahu keluarga Arinjani untuk pergi ke RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur. Di sanalah akhirnya mereka tahu.

"Setelah jam berapa itu, dari pihak KRL ngasih tahu kalau korban udah ini, evakuasi terakhir. 'Terus gimana dengan anak saya? Nomor ini nggak ada namanya di rumah sakit semua?' 'Ya udah Ibu ke Rumah Sakit Polri.' Langsung menuju ke sana, Mbak. Tahu nya itu sore jam 4 baru kabarin setelah bapaknya tes DNA," kata Yani.

Yani mengenang Arinjani sebagai anak yang ceria. Selalu ramai, selalu bikin suasana rumah hidup. Arinjani kerja sebagai auditor di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat. Kata Yani, anaknya itu baik banget.

"Anaknya itu ceria, Mas. Ceria, ramai, di rumah itu ramai. Pokoknya kalau ada dia itu ramai, ceria, baik Mas anaknya itu," katanya.

Sebagai informasi, kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek menabrak KRL di Stasiun Bekasi Timur terjadi pada Senin (27/4) malam. Total ada 16 orang meninggal dunia. Puluhan lainnya luka-luka dan masih dirawat.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar