Dari Tangerang ke Papua: Seorang Guru Menemukan Panggilan Sejati di Ujung Timur Indonesia

- Sabtu, 06 Desember 2025 | 10:40 WIB
Dari Tangerang ke Papua: Seorang Guru Menemukan Panggilan Sejati di Ujung Timur Indonesia

Ribuan kilometer dari rumahnya di Tangerang, Noreka Elisabeth memilih mengabdi. Ia mengajar di Sekolah Rakyat Papua, sebuah keputusan yang membuatnya rela berpisah dari keluarga. Bagi Noreka, setiap hari di Jayapura bukan sekadar tugas; itu adalah perjalanan untuk menemukan makna menjadi seorang guru yang sesungguhnya.

Penempatannya di ujung timur Indonesia itu datang mendadak. Awal Juli 2025 dini hari, suaminyalah yang menyampaikan kabar itu. “Sempat terkejut, tidak menyangka,” aku Noreka saat kami bertemu di SRMA 29 Kota Jayapura, Kecamatan Abepura. Rasanya seperti dihempaskan ke sebuah petualangan yang tak terduga.

Keyakinannya pada dunia pendidikan sudah bulat. Setelah lulus dari Jurusan Bahasa Indonesia FKIP UNS Surakarta pada 2023, ia langsung menekuni Program Profesi Guru (PPG) di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Serang. Perjalanan empat jam antarprovinsi yang harus ia tempuh hampir tiap hari tak dianggapnya sebagai beban. Ia jalani saja, tanpa keluhan.

“Jarak itu bukan penghalang, tapi kesempatan,” ujarnya tegas dalam sebuah keterangan tertulis.

“Saya anggap ini semua adalah proses, sebuah petualangan. Tadinya saya pikir ke sini cuma untuk mengajar. Ternyata salah. Karena petualangan dan pengalaman itulah saya sadar, di sini sayalah yang justru banyak belajar. Belajar jadi guru yang sesungguhnya.”

Di balik semangatnya, ada ridho dari keluarganya. Suaminya, yang bertugas di Lapas Kelas 1 Tangerang, selalu mendukung penuh sejak mereka menikah di 2020. Begitu pula sang mertua, yang bagi Noreka telah menggantikan sosok ibu kandungnya yang telah wafat.

Mereka bahu-membahu menjaga anak balitanya, baik saat Noreka menempuh PPG maupun sekarang saat ia jauh di Papua. Dukungan seperti inilah yang memberinya keberanian.

“Saya melihat visi dan misi sekolah ini sangat mulia,” jelasnya mengenai alasan bergabung dengan Sekolah Rakyat.

“Itu yang menarik perhatian saya. Saya ingin ambil kesempatan emas ini, berkontribusi untuk dunia pendidikan lewat jalan ini.”

Adaptasi di tanah baru ternyata berjalan lancar. Pengelola sekolah dan sesama guru yang kebanyakan juga baru pertama kali menginjakkan kaki di Papua menciptakan rasa kebersamaan yang kuat. Sambutan hangat langsung mereka terima dari Kepala Sekolah, Yanet Berotabui, sejak awal kedatangan.

“Pertama kali jumpa, beliau langsung memeluk kami,” kenang Noreka sambil tersenyum.

“Disambut dengan senyuman dan kehangatan yang sampai sekarang masih terasa. Beliau sudah seperti orang tua kami di sini.”

Kepala sekolah itu bahkan langsung menanyakan kebutuhan pribadi dan perlengkapan mengajar mereka. Bagi Noreka, sikap seperti ini memperkuat keyakinannya bahwa Papua memang membutuhkan kehadiran guru-guru dari Jawa.

Selain menemukan keluarga baru, Noreka mendapat pengalaman tak terduga: dunia public speaking. Ia pernah diundang ke Jakarta untuk mengikuti diklat dan bahkan mengisi siniar di Kemendikbudristek untuk berbagi cerita pengalamannya.

“Allah tidak mungkin memberi sesuatu yang hanya sedih semata. Pasti ada hikmah lain di baliknya,” katanya merenung.

“Hidup itu, ya, seimbang menurut saya.”

Menjadi pendidik, istri, dan ibu dari jarak jauh tentu punya tantangannya sendiri. Bagi sebagian orang, mungkin terlihat kurang sempurna. Tapi Noreka mengusahakan keseimbangan. Video call dengan anak, suami, dan mertua jadi rutinitas penghubung yang tak pernah ia lewatkan.

“Suami saya selalu menekankan, jalankan saja tugas untuk negeri ini,” ujarnya, menirukan perkataan sang suami.

“Insya Allah, kalau kita mengajar dan menjaga anak orang, Allah sendiri yang akan menjaga anak kita. Kata-kata itu yang sangat menenangkan hati saya.”

Kasih sayang melimpah dari keluarga di rumah ia balas dengan dedikasi penuh untuk anak-anak Papua. Antusiasme mereka sejak pertemuan pertama langsung menyentuh hatinya.

“Waktu pertama bertemu, saya excited. Anak-anaknya juga antusias sekali,” ungkapnya.

Hal sederhana seperti sapaan “Selamat pagi, Ibu Guru” terasa sangat berkesan baginya sebuah rasa hormat yang jarang ia temui saat mengajar di Jawa. Kedekatan itu makin terjalin lewat aktivitas di luar kelas, seperti bermain badminton, voli, atau sepak bola. Kadang, ada juga siswa yang piawai menyanyi.

“Di sini enggak cuma mengajar di dalam kelas,” katanya.

“Kita juga harus lihat kondisi lapangan, implementasikan ilmu dari PPG dulu. Melihat karakteristik peserta didik, lingkungan, sosial budayanya. Nah, ini tantangan sekaligus pelajaran berharga buat saya.”

Kini, kisahnya di Papua mungkin bisa jadi inspirasi bagi guru-guru lain yang ingin berperan dalam pemerataan pendidikan. Ia mewujudkan cita-citanya sekaligus menyumbangkan ilmu untuk masa depan bangsa.

“Saya sudah berusaha maksimal untuk cita-cita ini,” pungkas Noreka.

“Lalu dapat rezeki diterima di Sekolah Rakyat Jayapura. Mungkin bagi orang lain ini bukan apa-apa. Tapi bagi saya, akan sangat menyesal kalau kesempatan ini tidak saya ambil.”

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar