Kemarau dan El Nino itu beda, lho. Seringkali orang menyamakan keduanya, padahal masing-masing punya ciri khas sendiri. El Nino memang kerap dikaitkan dengan musim kemarau, tapi jangan salah mereka bukanlah hal yang sama.
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kemarau itu ibarat tamu tahunan yang pasti datang. Sementara El Nino? Lebih kayak variabilitas iklim yang muncul sewaktu-waktu, bisa bikin kemarau jadi lebih kering dari biasanya. Nih, biar lebih jelas, bedanya gini:
Kemarau:
- Ini variabilitas iklim normal, sifatnya musiman.
- Dateng tiap tahun, nggak pernah bolos.
- Penyebabnya angin monsun Australia yang bawa massa udara kering.
El Nino:
- Sebaliknya, ini anomali penyimpangan iklim.
- Munculnya periodik, sekitar 3 sampai 7 tahun sekali.
- Akibat suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian timur dan tengah yang memanas.
Dampak Kalau Kemarau Makin Kering
Nah, yang perlu diwaspadai adalah ketika kemarau datang lebih kering. Efeknya bisa terasa di mana-mana. Misalnya, sumber air bersih mulai menipis, polusi udara meningkat, dan risiko kebakaran hutan serta lahan ikut naik. Belum lagi, produksi pembangkit listrik tenaga air bisa terganggu, dan petani menghadapi gagal panen akibat kekeringan.
Tapi, di sisi lain, ada juga peluang yang muncul. Produksi garam kualitas tinggi bisa meningkat, kualitas komoditas hortikultura jadi lebih baik, proyek infrastruktur nggak terganggu cuaca, dan produksi listrik tenaga surya malah naik. Jadi, ada dua sisi mata uang, ya.
Tips Hadapi Kemarau dan El Nino
Biar nggak kaget, ada beberapa hal yang bisa disiapkan. Pertama, pakai air secara hemat dan bijak jangan boros. Kedua, jangan sembarangan bakar-bakar sampah atau lahan. Ketiga, pilih tanaman yang tahan kering dan umur tanamnya pendek. Keempat, mulai tampung air hujan dari sekarang. Kelima, jaga kesehatan cukupi kebutuhan air minum dan pakai masker kalau polusi lagi parah.
Yang Perlu Dicatat Soal Kemarau 2026
Soal kemarau 2026, ada beberapa fakta menarik. La NiƱa lemah yang udah berlangsung sejak Oktober 2025 akhirnya berakhir pada Februari 2026. Sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi masuk musim kemarau mulai April, Mei, dan Juni 2026. Awalnya dari Nusa Tenggara dulu, baru merambat ke daerah lain.
Menariknya, awal musim kemarau di banyak tempat diprediksi datang lebih awal sekitar 46,5 persen wilayah atau sama dengan normalnya. Curah hujan selama musim kemarau juga diperkirakan lebih rendah dari biasanya di 64,5 persen wilayah. Puncak kemarau? Sebagian besar, tepatnya 61,4 persen wilayah, bakal ngalamin di bulan Agustus 2026. Dan yang bikin waswas, 57,2 persen wilayah diprediksi mengalami musim kemarau yang lebih panjang dari normal.
Jadi, siap-siap aja dari sekarang.
Artikel Terkait
Korban Tewas Kecelakaan Kereta Argo Bromo Anggrek dan KRL Bertambah Jadi 16 Orang
Raffi Ahmad Datangi Lokasi Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur, Sebut Kedatangannya Murni Spontan
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi Beri Santunan Rp50 Juta per Korban Meninggal Kecelakaan KA dan Rp10 Juta untuk Pasien Dirawat
BNPP RI Dorong Mahasiswa di Perbatasan NTT Manfaatkan PLBN sebagai Laboratorium Ekonomi dan Kedaulatan