Proposal Iran soal Selat Hormuz Picu Ketegangan Baru, Trump Tolak Syarat Pencabutan Blokade

- Rabu, 29 April 2026 | 06:25 WIB
Proposal Iran soal Selat Hormuz Picu Ketegangan Baru, Trump Tolak Syarat Pencabutan Blokade

Perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran masih mentok di jalan buntu. Belum ada titik temu. Malah, proposal anyar dari Teheran soal Selat Hormuz bikin Presiden Donald Trump naik pitam.

Menurut laporan yang beredar, Selasa (28/4/2026), Trump sudah mendapat pengarahan lengkap soal proposal itu. Rapatnya digelar di Situation Room Gedung Putih, Senin (27/4) kemarin. Isinya? Iran mau membuka kembali Selat Hormuz, tapi dengan syarat: AS harus mencabut blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan mereka.

Nah, yang bikin rumit, proposal ini sama sekali tidak menyinggung program nuklir Teheran. Beberapa pejabat dari kedua negara mengonfirmasi hal itu. Jadi, fokusnya cuma soal Selat Hormuz dan blokade. Nuklir? Tidak dibahas.

Lalu, apa sebenarnya yang bikin Trump tidak senang? Tidak ada yang tahu persis. Tapi yang jelas, sejak lama dia ngotot pada dua tuntutan utama soal nuklir Iran. Dan proposal ini, ya, tidak memenuhi tuntutan itu.

Seorang pejabat AS yang minta namanya tidak disebut bilang, kalau sampai AS menerima proposal Iran, itu sama saja dengan mengakui kekalahan Trump di depan umum. Kasar, tapi mungkin ada benarnya.

“Amerika Serikat tidak akan bernegosiasi lewat pers. Kami sudah sampaikan batasan-batasan kami dengan jelas. Presiden hanya akan membuat kesepakatan yang baik bagi rakyat Amerika dan dunia,” tegas Olivia Wales, juru bicara Gedung Putih, dalam pernyataannya ke NYT.

Proposal Iran ini pertama kali diungkap oleh media AS, Axios, pada Minggu (26/4) waktu setempat. Menariknya, laporan itu muncul tidak lama setelah kabar bahwa Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyerahkan proposal serupa kepada mediator Pakistan. Jadi, ada dua jalur sekaligus.

Axios juga melaporkan, dalam proposal terbarunya, Iran mengusulkan perpanjangan gencatan senjata entah untuk jangka waktu lama atau bahkan dibuat permanen. Tapi perundingan nuklir baru akan dimulai kalau Selat Hormuz sudah dibuka kembali dan blokade laut AS dicabut. Semacam paket kebijakan, gitu.

Sementara itu, AS tetap pada pendiriannya: Iran harus menangguhkan pengayaan uranium setidaknya selama sepuluh tahun, dan memindahkan semua pasokan uranium yang sudah diperkaya keluar dari negaranya. Tuntutan ini, sejauh ini, belum diterima secara resmi oleh Teheran. Jadi, ya, masih panjang urusannya.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar