Mensos Gus Ipul Tegaskan Pendamping PKH Harus Profesional dan Berintegritas, Pelanggaran Tak Ditoleransi

- Selasa, 28 April 2026 | 19:30 WIB
Mensos Gus Ipul Tegaskan Pendamping PKH Harus Profesional dan Berintegritas, Pelanggaran Tak Ditoleransi

Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul baru saja memberikan wejangan kepada para pendamping Program Keluarga Harapan (PKH). Isinya? Mereka diminta bekerja lebih profesional. Lebih berintegritas. Dan yang terpenting, membawa dampak yang benar-benar terasa di masyarakat.

Pesan ini disampaikan dalam sebuah rapat koordinasi yang digelar secara daring dari Kantor Kementerian Sosial di Jakarta Pusat. Bayangkan, lebih dari 6.000 orang ikut serta mulai dari Ketua Tim Kecamatan, Kabupaten/Kota, hingga Provinsi PKH dari seluruh Indonesia. Rapatnya lumayan besar, ya.

Di sisi lain, Gus Ipul tidak sendirian dalam kesempatan itu. Ia didampingi oleh Direktur Perlindungan Sosial Non Kebencanaan, Faisal, dan Tenaga Ahli Menteri Sosial Bidang Perencanaan dan Evaluasi Kebijakan Strategis, Andy Kurniawan. Dua nama yang mungkin sudah tidak asing lagi di lingkaran Kemensos.

Nah, soal status pendamping PKH yang sekarang jadi ASN PPPK, Gus Ipul punya pandangan tegas. Menurutnya, ini bukan sekadar jabatan. Ini bentuk kepercayaan negara. Kepercayaan yang harus dijaga dengan kinerja baik dan penuh tanggung jawab.

“Luar biasa kehormatan negara terhadap kita. Luar biasa kepercayaan Presiden kepada kita,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (28/4/2026).

“Untuk itu tidak ada pilihan lain. Ini harus kita balas dengan kerja yang benar, kerja yang baik, kerja yang terukur, kerja yang profesional,” tambahnya.

Gus Ipul juga sempat memuji kerja keras para pendamping yang selama ini setia mendampingi keluarga penerima manfaat (KPM). Namun begitu, ia mengingatkan satu hal: pelanggaran terhadap aturan tidak akan ditoleransi. Sekali melanggar, siap-siap saja.

“Kami sama sekali tidak ingin ada para pendamping PKH yang diberikan sanksi. Tetapi kita tahu bahwa ada hal-hal yang tidak boleh dilanggar,” tegasnya.

Menurut sejumlah catatan, sepanjang tahun 2026 ini saja sudah ada puluhan kasus pelanggaran yang dilakukan pendamping PKH. Mulai dari teguran ringan hingga proses pemberhentian. Angka ini, kata Gus Ipul, harus jadi alarm. Alarm agar semua pendamping menjaga disiplin dan integritas.

Dalam arahannya, Gus Ipul juga mengingatkan tiga mandat utama Presiden kepada Kementerian Sosial. Pertama, pemutakhiran Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Kedua, penyaluran bantuan sosial yang tepat sasaran. Ketiga, penyelenggaraan Sekolah Rakyat. Tiga hal ini, menurutnya, tidak akan berjalan tanpa peran pendamping PKH.

“Pendamping PKH adalah penentu keberhasilan program prioritas Presiden. Pendamping PKH adalah wajah negara di hadapan rakyatnya,” katanya.

Lebih jauh lagi, Gus Ipul menekankan bahwa penanganan kemiskinan tidak bisa hanya berhenti pada penyaluran bansos. Harus ada perubahan kondisi keluarga secara bertahap. Mulai dari mengurangi beban pengeluaran, meningkatkan pendapatan, hingga memutus rantai kemiskinan lewat pendidikan. Semua itu perlu pendekatan yang lebih dalam.

Ia lalu menyebut konsep 3A: Ability, Asset, dan Accessibility. Pendamping diminta tidak sekadar mengadakan pertemuan rutin. Mereka harus aktif mengarahkan KPM untuk ikut pelatihan, mencari peluang usaha, dan meningkatkan kapasitas diri.

Di akhir sesi, Gus Ipul menyampaikan delapan arahan tegas. Delapan pegangan yang harus diingat betul oleh para pendamping. Mulai dari memegang integritas tanpa kompromi, memastikan DTSEN akurat dan jujur, mewujudkan bansos tepat sasaran, menjaga proses penjangkauan Sekolah Rakyat tetap bersih, mendorong graduasi KPM, hadir lebih awal di tengah masyarakat, bekerja secara profesional, hingga memastikan setiap kerja berdampak nyata.

“Ukur keberhasilan bukan dari laporan, tapi dari perubahan hidup rakyat,” tegasnya.

Menjelang penutup, Gus Ipul mengajak semua pendamping untuk memperkuat semangat kebersamaan. Katanya, meskipun latar belakang berbeda, mereka harus tetap satu barisan.

“Beragam latar, satu barisan,” serunya.

Dan seruan itu disambut serempak oleh para pendamping PKH dari seluruh Indonesia. Suara mereka, meski lewat layar, terdengar bulat.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar