Dua mantan Perdana Menteri Israel Naftali Bennett dan Yair Lapid akhirnya sepakat bergabung. Mereka yang dulunya saling bersaing, kini memutuskan untuk meleburkan partai masing-masing. Targetnya satu: menantang Benjamin Netanyahu di pemilu mendatang. Kabarnya, pemilu itu sendiri diperkirakan baru akan digelar menjelang akhir tahun ini.
Pengumuman ini disampaikan langsung pada Minggu (26/4) waktu setempat. Bennett, yang dikenal beraliran sayap kanan, dan Lapid yang lebih sentris, mengeluarkan pernyataan bersama. Isinya? Mereka bertekad untuk mendongkel pemerintahan Netanyahu yang sudah berkuasa cukup lama. Menurut laporan yang beredar, aliansi ini diberi nama "Bersama". Bennett sendiri yang akan duduk sebagai pemimpin partai baru tersebut.
Nah, yang menarik, langkah ini sebenarnya bukan tanpa sejarah. Bennett dan Lapid sebelumnya pernah membentuk koalisi serupa pada 2021. Saat itu, mereka berhasil mengakhiri kekuasaan Netanyahu yang sudah berlangsung 12 tahun berturut-turut. Tapi ya, pemerintahannya hanya bertahan kurang dari 18 bulan. Sekarang mereka coba lagi.
Dalam pernyataan yang disiarkan televisi setempat, Bennett terlihat cukup emosional. Katanya,
"Saya dengan senang hati mengumumkan bahwa malam ini, bersama dengan teman saya Yair Lapid, saya mengambil langkah paling Zionis dan patriotik yang pernah kami ambil untuk negara kami."
Lapid, di sisi lain, juga punya pandangannya sendiri. Ia menekankan soal kepercayaan di antara mereka berdua.
"Bennett merupakan politisi sayap kanan, tetapi dia jujur, dan ada rasa saling percaya di antara kami," ujar Lapid dalam kesempatan yang sama.
Ia juga menambahkan, "Langkah ini dimaksudkan untuk menyatukan blok tersebut, mengakhiri perpecahan internal, dan memfokuskan semua upaya untuk memenangkan pemilu penting yang akan datang dan memimpin Israel menyongsong masa depan."
Menurut sejumlah saksi dan pengamat, aliansi ini memang bertujuan untuk menyatukan oposisi yang selama ini terpecah-pecah. Jujur saja, selain sama-sama tidak suka sama Netanyahu, mereka sebenarnya tidak punya banyak kesamaan. Tapi ya, politik memang penuh kejutan.
Bennett juga sudah menyiapkan agenda jika nanti terpilih. Ia berjanji akan membentuk komisi penyelidikan nasional. Fokusnya? Menyelidiki apa yang disebutnya sebagai kegagalan yang berujung pada serangan mengejutkan Hamas pada 7 Oktober 2023 lalu. Tentu saja, tuduhan ini langsung ditolak oleh pemerintahan Netanyahu.
Baik Bennett maupun Lapid memang sudah lama menjadi pengkritik vokal Netanyahu. Terutama soal cara Netanyahu menangani perang yang berkecamuk sejak serangan Hamas itu. Baru-baru ini, Lapid bahkan mengkritik gencatan senjata dua minggu dengan Iran. Katanya, itu "bencana politik".
Soal elektabilitas, Bennett memang sedang moncer. Usianya 54 tahun, mantan komandan militer yang kini jadi jutawan teknologi. Dalam jajak pendapat N12 News Israel pada 23 April lalu, partainya diprediksi mengamankan 21 kursi dari total 120 kursi parlemen. Bandingkan dengan Partai Likud milik Netanyahu yang diperkirakan dapat 25 kursi. Survei lain dari lembaga akademis dan media lokal juga menempatkan Bennett sebagai kandidat utama.
Jadi, apakah ini akhir dari era Netanyahu? Belum ada yang tahu pasti. Tapi yang jelas, panggung politik Israel sedang memanas.
Artikel Terkait
Evakuasi Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Timur Terkendala, 6-7 Orang Masih Terjebak
Tabrakan Kereta Jarak Jauh dan KRL di Bekasi Timur, 5 Tewas dan Puluhan Luka
Tabrakan Kereta di Stasiun Bekasi Timur Tewaskan 7 Orang, 81 Luka-luka
Tabrakan Kereta di Bekasi Timur: 7 Tewas, 81 Luka, Evakuasi Berlangsung 8 Jam