Bripka Anugrah, Polisi IT Polda Sultra yang Ciptakan Tiga Aplikasi untuk Operasional Kepolisian

- Senin, 27 April 2026 | 10:45 WIB
Bripka Anugrah, Polisi IT Polda Sultra yang Ciptakan Tiga Aplikasi untuk Operasional Kepolisian

Di Polda Sulawesi Tenggara, ada satu nama yang cukup menonjol di bidang teknologi: Bripka Anugrah Tri Febriantara. Dia bukan polisi biasa. Sebagai Bamin Subbagian Mutasi Jabatan di Bagian Pembinaan Karier Biro SDM, pria ini punya keahlian khusus di bidang IT. Beberapa aplikasi buatannya bahkan dipakai untuk mempermudah kerja personel. Salah satunya? Aplikasi data persenjataan aset Polda Sultra.

Karena inovasi itu, namanya masuk dalam usulan Hoegeng Awards 2026. Prestasinya dianggap cukup mentereng tiga aplikasi dia buat untuk mendukung operasional kepolisian di daerah.

Aplikasi pertama yang lahir dari tangannya adalah Sistem Informasi Data Senjata Polda Sultra. Awalnya, ini ide dari Wakapolda Sultra waktu itu, Brigjen Pol Waris Agono. Bripka Anugrah-lah yang kemudian mewujudkannya.

“Beliau dulu di sini Wakapolda, minta dibuatkan aplikasi data senjata. Sama Bripka Anugrah, dibuatkan dan diterapkan di Polda Sultra,” ujar Kabagwatpers Biro SDM Polda Sultra, Kompol Adeng, saat berbincang dengan kami, Rabu (25/3/2026).

Dia melanjutkan, “Pas Brigjen Waris pindah ke Korbrimob, aplikasi itu ikut dipakai di sana. Terus waktu beliau jadi Kapolda Maluku Utara, Bripka Anugrah dipanggil lagi untuk ngembangin aplikasi yang sama di sana.”

Menurut Kompol Adeng, aplikasi data senjata ini masih dipakai sampai sekarang oleh Biro Logistik Polda Sultra. Tapi, dia akui, perlu ada pengembangan lagi ke depannya.

“Rencananya, setiap senjata bakal dipasangin GPS. Jadi kalau hilang atau dipindah, langsung ketahuan lewat aplikasi. Tapi GPS-nya belum terpasang, soalnya butuh modal dan pengembangan lebih lanjut,” jelasnya.

Aplikasi kedua yang dibuat Bripka Anugrah adalah Ingat-AC kependekan dari Integrasi Gabungan Terpadu Assessment Center. Dibuat tahun 2020. Tapi sayang, sekarang aplikasi ini udah nggak dipakai lagi oleh SDM Polda Sultra.

“Fungsinya buat ngumpulin nilai dari berbagai sesi assessment center. Jadi integrasi dari berbagai pool penilaian peserta,” kata Kompol Adeng.

Lalu ada aplikasi ketiga: Si Jago, alias Sistem Informasi Data Jabatan dan Golongan. Ini dibuat untuk memudahkan fungsi SDM dalam urusan pengembangan karier jabatan di wilayah Polda Sultra. Nasibnya sama sudah nggak aktif lagi.

“Soalnya pakai web, butuh biaya dan update terus. Akhirnya nggak dipakai lagi sama bagian pembinaan karier,” tambahnya.

Di luar kemampuan IT-nya, Bripka Anugrah juga dinilai sebagai polisi yang baik dan patuh aturan. Sepanjang kariernya, dia nggak pernah tercatat melanggar kode etik atau disiplin kepolisian.

“Kepribadiannya baik, nggak punya masalah menonjol, nggak pernah kena hukuman. Pesan saya, dia harus konsisten sama pemikirannya. Biar makin bermanfaat, khususnya buat institusi, umumnya buat masyarakat,” pesan Kompol Adeng.

Bripka Anugrah sendiri sempat menjadi kandidat Hoegeng Corner 2025. Dalam perbincangan dengan kami, Jumat (7/11/2025), dia cerita soal awal mula pembuatan tiga aplikasi itu.

“Awalnya ada proyek Ingat-AC Integrasi Gabungan Terpadu Assessment Center. Terus ada sistem informasi data senjata. Terakhir Si Jago, buat data jabatan dan golongan,” katanya.

Aplikasi Ingat-AC ini berbasis website. Fungsinya? Memudahkan asesor menilai peserta. Biasanya dipakai untuk penilaian kinerja anggota atau lelang jabatan internal Polri. Belakangan, Pemda juga ikut kerja sama untuk lelang jabatan.

“Polri punya assessment center di SDM. Dipakai sama Pemda, internal Polri, bahkan kerja sama dengan Mabes. Pelaksanaannya di Polda Sultra,” jelasnya.

Dengan aplikasi ini, kerja asesor jadi lebih ringan. Semua hasil penilaian dilakukan secara digital. Nggak perlu lagi pakai kertas.

“Dulu assessor catat hasil wawancara, hasil diskusi, pakai rumus manual, tulis di kertas, baru diinput. Sekarang mereka bisa akses lewat tablet atau HP. Penilaian langsung tampil digital,” katanya.

Ingat-AC dibuat tahun 2020. Atas inovasi ini, Bripka Anugrah dapat Pin Perak dari Kapolri tahun 2024. Penghargaan itu diberikan karena dia dinilai berhasil meningkatkan kerja sama dengan berbagai instansi di bidang Assessment Center.

“Pin Perak itu karena kita jadi pelaksana asesmen terbanyak di Indonesia. Waktu itu MoU dengan hampir 15 kabupaten. Kita sosialisasi ke jajaran, diapresiasi Pak Kapolri. Soalnya MoU kerja sama Pemda sama assessment center itu jadi salah satu sumber PNBP,” jelasnya.

Menurut Bripka Anugrah, asesmen berbasis digital ini pertama kali dipakai di Polda Sultra. Sekarang, Mabes Polri juga sudah mengadopsi sistem serupa.

“Awalnya dari kita. Terus ada sistem dari Mabes, namanya DAC Assessment. Kerjanya hampir sama, cuma lebih komplit karena udah terintegrasi sama SIPP sistem informasi personel Polri,” ujarnya.

Selain Ingat-AC, dia juga bikin aplikasi data senjata buat Biro Logistik dan Si Jago buat Biro SDM. Tapi saat ini, ketiga aplikasi berbasis website itu nggak bisa diakses. Soalnya lagi migrasi server. Targetnya, Desember depan bisa diakses lagi.

“Kemarin kita pakai server pihak ketiga. Tapi ada TR dari Mabes, semua aplikasi web di jajaran harus ditarik dari pihak ketiga. Pakai server Mabes, domain-nya Polri.go.id. Biar data aman,” jelasnya.

Sekarang, Bripka Anugrah lagi sibuk ngembangin aplikasi Android. Fokusnya pada data senjata, kendaraan motor, dan aset Polda Maluku Utara. Permintaan langsung dari Kapolda Malut, Irjen Pol Waris Agono yang dulu Wakapolda Sultra.

“Agak nggak relevan sih, saya anggota Polda Sultra tapi develop aplikasi buat Polda Malut. Tapi atas permintaan langsung Pak Kapolda. Akhir bulan ini saya berangkat ke sana. Aplikasinya launching, udah pakai website dan server Mabes,” katanya.

Aplikasi ini rencananya diluncurkan Oktober. Fungsinya buat memudahkan pendataan senjata dan aset di Polda Malut.

“Udah selesai, tinggal berangkat, launching, dan pelatihan operator. Harapannya, aplikasi ini bisa dipakai seluruh Indonesia. Ada barcode senjata. Jadi kalau ada senjata hilang atau ketemu, tinggal scan. Langsung ketahuan punya siapa, terakhir dipegang siapa, pernah rusak atau nggak,” tuturnya.

Aplikasi ini cuma bisa diakses internal Polri. Menurutnya, itu penting demi keamanan data.

“Kalau data senjata dipake umum, bahaya. Dengan aplikasi ini, pendataan lebih mudah. Nggak ada lagi barang atau senjata yang hilang,” katanya.

Bripka Anugrah mengaku bisa membuat aplikasi-aplikasi ini karena latar belakang pendidikannya di teknik informatika. Dia juga sering ngobrol sama teman-temannya yang kerja sebagai programmer.

“Saya dulu sebelum jadi polisi sempat kuliah di teknik informatika. Saya suka IT. Saya amati, tiru, modifikasi. Akhirnya bisa bikin aplikasi yang sesuai keinginan pimpinan dan memudahkan kerja di Polda Sultra,” pungkasnya.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar