Bisnis.com, JAKARTA Kabar baik datang dari Bank Indonesia. Lembaga itu memutuskan untuk kembali mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 4,75%. Keputusan ini diambil dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode 21–22 April 2026. Dan responsnya? Positif, terutama dari kalangan industri otomotif.
Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyambut baik langkah BI tersebut. Ketua I Gaikindo, Jongkie Sugiarto, terus terang menyampaikan harapannya. Ia berharap level suku bunga ini bisa bertahan lebih lama. Alasannya? Biar penjualan kendaraan bermotor bisa perlahan pulih. Soalnya, kondisi pasar masih stagnan di kuartal I/2026.
“Kami harapkan agar suku bunga acuan bisa bertahan agak lama sehingga suku bunga kredit kendaraan bermotor juga tidak naik,” ujar Jongkie kepada Bisnis, dikutip Kamis (23/4/2026).
Nah, bicara soal penjualan, datanya memang agak miris. Menurut Gaikindo, penjualan mobil secara wholesales distribusi dari pabrikan ke dealer cuma tercatat 61.271 unit pada Maret 2026. Bandingkan dengan Maret tahun lalu yang mencapai 71.099 unit. Artinya, turun 13,8% secara tahunan. Lumayan dalam.
Di sisi lain, penjualan ritel dari dealer ke konsumen juga tak lebih menggembirakan. Angkanya 66.637 unit di periode yang sama. Juga melemah 13,2% dibandingkan realisasi Maret 2025 yang sebesar 76.765 unit. Jadi, memang sedang berat.
Jongkie mengakui, daya beli di sektor otomotif masih tertekan. Konsumsi masyarakat lagi lemah. Makanya, Gaikindo berharap tak ada kenaikan suku bunga acuan dalam waktu dekat. “Karena ini akan mengganggu angka-angka penjualan yang masih tertekan. Daya beli masyarakat masih lemah,” jelasnya.
Namun begitu, kalau kita lihat data kumulatif, ada sedikit secercah harapan. Distribusi mobil secara wholesales sepanjang Januari–Maret 2026 mencatat pertumbuhan tipis 1,7% yoy, menjadi 209.021 unit. Dibandingkan 205.539 unit pada periode sama tahun lalu. Sementara penjualan ritel di tiga bulan pertama tahun ini mencapai 211.905 unit. Naik cuma 0,5% dari 210.766 unit. Jadi, pertumbuhannya masih terbatas, nyaris flat.
Di sisi lain, Bank Indonesia punya pandangan sendiri. Mereka bilang, upaya penurunan suku bunga dana dan kredit perbankan masih perlu diperkuat. Tujuannya? Untuk mendorong pertumbuhan pembiayaan dan menopang ekspansi ekonomi yang berkelanjutan.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, menjelaskan langkah itu bisa dilakukan lewat koordinasi. Salah satunya dengan menekan pemberian special rate kepada deposan besar. “Yang saat ini mencapai 26,3% dari total DPK [dana pihak ketiga],” ujar Perry dalam RDG April 2026, Rabu (22/4/2026).
Perry menegaskan, transmisi pelonggaran kebijakan moneter terhadap penurunan suku bunga masih berlanjut. Saat ini, berbagai suku bunga perbankan tetap berada dalam tren menurun. Dan ini ditopang kondisi likuiditas yang longgar. Semoga saja, tren ini bisa membantu industri otomotif bangkit kembali.
Artikel Terkait
Penjaga Kafe di Bandar Lampung Ditangkap, Jadi Anggota Komplotan Pencuri Kabel PLN
Mei 2026 Penuh Tanggal Merah dan Peringatan, Pemerintah Tetapkan Empat Hari Libur Nasional
Puan Maharani Soroti Maraknya Kecurangan UTBK 2026, Desak Evaluasi Sistem Pengawasan
Ammar Zoni Divonis 7 Tahun Penjara atas Kasus Penjualan Narkoba, Hakim Tak Perintahkan Asesmen