Salah satu korban tewas dalam kecelakaan kereta api Argo Anggrek Bromo dan KRL di Stasiun Bekasi Timur adalah Ristuti Kustirahayu, 37 tahun. Perempuan itu asli Wonogiri, Jawa Tengah. Ayahnya bercerita, sudah enam tahun lamanya ia tidak bertemu langsung dengan anaknya. Kini, kecelakaan maut itu justru memisahkan mereka untuk selamanya.
Jenazah Ristuti sudah dimakamkan di kampung halamannya, tepatnya di Desa Bero, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri. Prosesi pemakaman berlangsung Selasa (28/4/2026) sore. Sekitar pukul 16.15 WIB jenazah tiba di rumah duka, lalu dikebumikan di Dusun Puncanganom menjelang magrib, pukul 18.00 WIB.
Sugeng Priyanto, ayah korban, menuturkan bahwa anaknya sudah bertahun-tahun menetap di Bekasi. Meski jarak memisahkan, komunikasi lewat telepon tetap jalan.
"Terakhir telepon itu Minggu. Ya seperti biasa, tanya kabar. Memang sering telepon," ujar Sugeng di rumah duka, suaranya lirih.
Menurut keluarga, Ristuti dikenal sebagai pribadi yang pekerja keras. Ia sudah belasan tahun merantau, bahkan sejak sebelum menikah. Di Bekasi, ia bekerja sebagai admin di sebuah toko bangunan. Hidupnya sederhana, tapi ia selalu berusaha keras.
Sudah lama sekali Ristuti tidak pulang ke Manyaran. Lebaran tahun ini, sebenarnya ia sempat berencana mudik. Namun, rencana itu batal karena mertuanya di Purwokerto meninggal dunia.
"Sudah lama sekali (tidak pulang). Terakhir pulang itu ya sekitar enam tahun lalu," kata Sugeng, mengulang kesedihan yang tak terucap.
Artikel Terkait
Mahasiswi Tewas dalam Kecelakaan KA di Bekasi, Teman Sebut Sempat Tak Ada Kabar Sejak Berpisah di Stasiun Jatinegara
1.461 Warga Manokwari Terima Bantuan Pangan Tahap Kedua dari Bulog
Kepala Badan Gizi Nasional: 1.720 Dapur Makan Bergizi Gratis Dihentikan Sementara, Tetap Terima Insentif Rp6 Juta Per Hari
Pansus IV DPRD Kalsel Evaluasi LKPJ 2025: Angka Kemiskinan Ekstrem Baru Turun 0,99 Persen dalam Lima Tahun