Jalan tol itu sepi. Sangat sepi. Itulah kenyataan pahit yang dialami Tol Manado-Bitung, sebuah infrastruktur megah yang ternyata jauh dari ramai kendaraan. Lantas, apa yang salah?
Menurut Danang Parikesit, Guru Besar FT UGM yang juga mantan Kepala BPJT, akar masalahnya terletak pada ketidakharmonisan. Pembangunan jalan tol ini, katanya, tidak selaras dengan pengembangan kawasan ekonomi dan kebijakan sektoral lain di sekitarnya. Akibatnya, prediksi lalu lintas meleset jauh bahkan hingga 70 persen.
"Salah satu asumsi dasar membangun Manado-Bitung adalah adanya dua proyek besar, yakni pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus [KEK] Bitung dan pengembangan Pelabuhan Bitung menjadi pelabuhan internasional,"
Ujar Danang dalam Simposium PT SMI di Jakarta, Kamis lalu.
Sayangnya, harapan itu tinggal harapan. KEK Bitung tak kunjung menunjukkan geliat ekonomi yang berarti, meski lahannya sudah disiapkan. Di sisi lain, nasib Pelabuhan Bitung malah terpuruk. Kebijakan penenggelaman kapal di masa lalu disebut-sebut membuat kapal asing, utamanya dari Filipina, kabur dari kawasan itu. Sektor logistik pun ikut terpukul.
Belum cukup sampai di situ. Pemerintah daerah justru membangun jalan biasa yang sejajar dengan koridor tol. Alhasil, terjadi kanibalisasi. Kendaraan lebih memilih jalan paralel yang mungkin lebih murah itu, meninggalkan tol yang mahal dan lengang.
"Jadi interconnectedness itu tidak terbangun," tegas Danang. "Semangat membangun saja menurut saya tidak cukup. Kuncinya juga soal connectivity."
Persoalan ini sebenarnya bukan cuma masalah lokal di Sulawesi Utara. Menteri PU Dody Hanggodo sebelumnya sudah mengangkat isu serupa secara nasional. Setidaknya ada 21 jalan tol di Indonesia yang kondisinya mirip: sepi pengendara.
Dalam rapat dengan Komisi V DPR akhir September tahun lalu, Dody mengakui realita lalu lintas di ruas-ruas itu jauh meleset. Angkanya di bawah 50% dari asumsi yang tercantum dalam perjanjian pengusahaan jalan tol (PPJT).
"Izinkan kami menyampaikan bahwa masih ada beberapa badan usaha jalan tol yang realisasi volume lalu lintas atau traffic-nya jauh lebih rendah,"
jelasnya kala itu.
Dampaknya bisa ditebak. Pendapatan dari tol yang sepi itu jelas tak sanggup menutupi biaya operasional dan pemeliharaannya. Kerugian menumpuk dari tahun ke tahun, hingga masa konsesi berakhir. Sebuah investasi infrastruktur yang, untuk sekarang, lebih banyak menjadi beban ketimbang manfaat.
Artikel Terkait
Target NZE 2050 Pacu Geliat Investasi Hijau di Indonesia
Calon Pimpinan Nasional Kunjungi KPK untuk Pembekalan Antikorupsi
Menlu: Prabowo Rencanakan Kunjungan Kenegaraan ke Prancis dalam Waktu Dekat
Sinergi Holding Ultra Mikro Dongkrak Kinerja PNM, Aset Tembus Rp57 Triliun