Di sebuah sekolah dasar di Jakarta Barat, tumpukan sampah organik justru menjadi bahan pelajaran yang berharga. Menyambut Hari Bumi 2026, SDN Sukabumi Selatan 07 di Kebon Jeruk punya cara unik: mereka mengolah sampah dapur menjadi ekoenzim. Ini bukan sekadar proyek sekali waktu, tapi bagian dari edukasi lingkungan yang ingin ditanamkan sejak dini.
Kepala sekolah, Bekti Widiyaningsih, menjelaskan tujuan di balik gerakan ini. Menurutnya, ada dua hal penting: mengurangi volume sampah organik dan sekaligus memberi pelajaran nyata kepada murid-murid tentang pengelolaan limbah yang ramah lingkungan.
"Diharapkan SDN Sukabumi Selatan 07 dapat menjadi percontohan sekolah peduli lingkungan," ujar Bekti.
Ia menambahkan, program semacam ini juga sejalan dengan predikat Adiwiyata Mandiri yang sudah disandang sekolahnya. "Melalui kegiatan ini, kami ingin menanamkan kepedulian lingkungan kepada siswa sejak dini," tegasnya.
Dukungan pun datang dari pihak kelurahan. Untuk mendukung langkah nyata itu, Kelurahan Sukabumi Selatan menyerahkan tong komposter sederhana kepada sekolah. Bantuan alat ini diharapkan bisa mempermudah proses pengolahan sampah.
Lurah Sukabumi Selatan, Anjas Umaryadi, punya harapan besar. "Kegiatan ini menjadi upaya mengurangi sampah dari sumbernya," katanya.
Tak hanya berhenti di gerbang sekolah, Anjas berharap ilmu yang didapat para siswa bisa dibawa pulang. "Sekaligus mengedukasi siswa agar dapat menerapkannya di rumah," tuturnya.
Jadi, dari tangan-tangan mungil murid SD inilah, sampah-sampah yang sering diabaikan disulap menjadi sesuatu yang berguna. Sebuah langkah kecil yang bermakna besar untuk bumi.
Artikel Terkait
Indonesia Desak Investigasi Tuntas Serangan ke Pasukan UNIFIL di Lebanon
Pemerintah Targetkan Pembangunan PLTN Dimulai 2027
Nice Lolos ke Final Piala Prancis Usai Kalahkan Strasbourg 2-0 Berkat Dua Gol Wahi
Pengamat: Desain Kelembagaan Kunci Indonesia Peringkat Kedua Ketahanan Energi Global