Harga Elpiji Nonsubsidi di Jabar Melonjak, Gubernur Sarankan Alternatif Biogas dan Kayu Bakar

- Rabu, 22 April 2026 | 04:30 WIB
Harga Elpiji Nonsubsidi di Jabar Melonjak, Gubernur Sarankan Alternatif Biogas dan Kayu Bakar

Jakarta - Harga gas elpiji di Jawa Barat tiba-tiba melonjak. Mulai 18 April 2026, warga harus mengeluarkan uang lebih banyak untuk sekadar memasak di dapur. Kenaikan ini cukup signifikan dan langsung dirasakan masyarakat.

Untuk tabung nonsubsidi 12 kilogram, harganya sudah tembus Rp228.000. Sementara yang ukuran 5,5 kg juga ikut naik, jadi Rp107.000. Lonjakan harga ini tentu bikin banyak orang mengelus dada.

Namun begitu, ada sedikit kabar baik. Harga untuk elpiji bersubsidi jenis 3 kilogram disebut masih stabil, belum ikut-ikutan naik.

Menanggapi situasi ini, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) punya pandangan lain. Daripada terus mengeluh, ia mendorong warga untuk mencari alternatif lain. Kuncinya, menurut dia, ada pada pemanfaatan kearifan lokal.

"Bisa mengelola kotoran sapi berubah jadi energi gas, bisa, sampah, bisa, listrik bisa,"

ujar Dedi Mulyadi, Senin (20/4).

Ia bukan sekadar teori. Di Kabupaten Bandung Barat, misalnya, sejumlah peternak sudah membuktikannya. Mereka mengolah limbah kotoran sapi menjadi biogas yang nyalanya tak kalah besar dengan gas elpiji biasa. Ini jadi solusi yang cukup cerdas dan berkelanjutan.

Di sisi lain, Dedi juga menawarkan strategi yang disesuaikan dengan tempat tinggal. Bagi warga di pedesaan atau perkampungan, penggunaan kayu bakar dinilainya masih sangat relevan dan mudah didapat.

Sementara untuk masyarakat kota, beralih ke kompor listrik bisa jadi pilihan yang lebih modern. Intinya adalah adaptasi.

"Jadi memang kita harus menyesuaikan dengan tingkat kemampuan dan kebutuhan kita,"

tambahnya.

Gubernur yang dikenal nyentrik ini tetap optimis. Ia yakin rakyatnya punya daya tahan dan kreativitas tinggi untuk menghadapi tantangan semacam ini. Kenaikan harga gas, baginya, justru bisa memicu inovasi.

“Saya meyakini warga Indonesia ini warga yang inovatif dan cerdas,” pungkas Dedi. (dpi)

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar