Semangat Hari Kartini tahun ini terasa lebih hidup lewat gerakan nyata. PLN, melalui Srikandi Movement, terus mendorong peran perempuan bukan sekadar sebagai simbol, tapi sebagai penggerak ekonomi dan kesejahteraan yang riil. Program TJSL mereka sepanjang 2025 telah menjangkau puluhan ribu orang, tersebar di lebih dari 140 titik di penjuru negeri. Dampaknya luas, dan yang terasa adalah sentuhannya yang langsung ke masyarakat.
Intinya, gerakan ini berfokus pada peningkatan kualitas hidup. Caranya? Melalui lima inisiatif utama yang menyentuh berbagai aspek: dari pendidikan lewat Srikandi Goes to School/Campus, kepedulian pada anak, dukungan sesama perempuan, kesehatan, hingga pengembangan kapasitas internal. Tujuannya satu: menghadirkan perubahan yang bisa dilihat dan diukur.
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menegaskan bahwa peran Srikandi PLN kini jauh melampaui urusan operasional penyediaan listrik. Mereka aktif menciptakan nilai tambah, khususnya bagi perempuan dan kelompok yang seringkali terpinggirkan.
"Melalui Srikandi Movement, PLN ingin memastikan bahwa kehadiran kami memberikan manfaat yang lebih luas. Program ini dirancang untuk mendorong kemandirian, meningkatkan kualitas hidup, serta membuka peluang bagi perempuan untuk berkembang dan berkontribusi dalam perekonomian," ujar Darmawan dalam keterangannya, Selasa (21/4).
Di sisi lain, angka-angka yang dicapai cukup berbicara. Kamia Handayani, Ketua Harian Srikandi PLN, menyebut Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) tembus 89,5. Nilai Social Return on Investment (SROI) yang positif juga jadi indikator nyata bahwa program ini benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Dari sekian banyak program, Women Support Women menonjol dengan capaiannya. Tahun lalu, program ini menjangkau hampir 1.300 penerima manfaat dan melibatkan 36 kelompok. Yang menarik, nilai SROI-nya mencapai 5,79 artinya, dampak sosialnya berlipat ganda.
"Inti dari Women Support Women itu pemberdayaan ekonomi. Kami tak cuma kasih akses, tapi juga bekali mereka keterampilan, pendampingan, dan jejaring. Hal-hal itulah yang bikin usaha mereka bisa bertahan dan berkembang," jelas Kamia.
Namun begitu, gerakan ini tak cuma soal itu. Ada Srikandi Goes to School/Campus yang fokus pada literasi, telah menyentuh lebih dari lima ribu siswa dan ratusan guru. Lalu, Srikandi Sahabat Anak hadir untuk memperkuat pemenuhan hak anak, menjangkau ribuan anak dan pendidik dengan SROI 2,59.
Di bidang kesehatan, Srikandi Care turun tangan menangani isu gizi dan stunting, menjangkau ribuan ibu dan anak. Sementara untuk pengembangan internal, Inspiring Srikandi jadi wadah bagi lebih dari 8.400 perempuan PLN untuk mengasah keterampilan non-kedinasan.
Bagi para penerima manfaat, program ini bukan sekadar angka. Seperti yang dirasakan Lanny Juliana Mogot, seorang pelaku UMKM asal Manado.
"Program ini benar-benar membantu kami untuk berkembang. Kami tidak hanya mendapatkan bantuan, tetapi juga ilmu dan pendampingan dalam menjalankan usaha. Sekarang kami lebih percaya diri untuk meningkatkan usaha dan menambah penghasilan keluarga," tuturnya.
Melalui narasi-narasi seperti ini, PLN optimis dampak positifnya akan terus meluas. Komitmennya jelas: memberdayakan perempuan sebagai pilar pembangunan. Dan ketika perempuan tumbuh, keluarga serta komunitas di sekitarnya pun ikut merasakan gelombang positifnya.
"Seluruh program ini dirancang untuk dampak berkelanjutan. Kami percaya, memberdayakan perempuan sama dengan menguatkan keluarga dan masyarakat secara keseluruhan," tambah Kamia menutup pembicaraan.
Artikel Terkait
Dua Calon Haji Soppeng Batal Terbang, Satu Hamil dan Satu Sakit
BRIN Kembangkan Makanan Praktis Berpemanas Tanpa Api untuk Jamaah Haji
Guru Besar IPB Tegaskan Data Stok Beras Pemerintah Valid Usai Sidak Prabowo
DPR Sahkan UU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga di Hari Kartini