Pelaku Copet Diarak dengan Kalung Saya Copet di Stasiun Tanah Abang

- Selasa, 21 April 2026 | 18:35 WIB
Pelaku Copet Diarak dengan Kalung Saya Copet di Stasiun Tanah Abang

Di tengah hiruk-pikuk Stasiun Tanah Abang, seorang perempuan harus merasakan pengalaman pahit: dompetnya raib. Peristiwa ini terjadi di jembatan penyeberangan multiguna, Senin sore lalu. Yang menarik, pelakunya seorang perempuan berinisial ES dari Bekasi kemudian diarak keliling area stasiun dengan tulisan "saya copet" tergantung di lehernya.

Menurut Kapolsek Tanah Abang, AKBP Dhimas Prasetyo, semuanya berlangsung cepat sekitar pukul empat sore. Korban, yang sedang asyik memilih barang belanjaan sambil menunggu jadwal kereta, sama sekali tak menyadari bahwa ponsel iPhone-nya telah lenyap dari dalam tas.

"Pada saat korban sedang berbelanja dan memilih barang belanjaan, sambil menunggu kereta tanpa disadari HP yang ada di dalam tas hilang," jelas Dhimas kepada awak media, Selasa (21/4).

Begitu menyadari kehilangan, korban langsung bertindak. Dengan bantuan dua petugas keamanan setempat, Abizar dan Dodi, pelaku yang dicurigai berhasil diringkus tak jauh dari lokasi.

Nah, di sinilah ceritanya jadi agak berbeda dari kasus copet biasa. Alih-alih langsung diserahkan ke polisi, pelaku justru diambil alih oleh pengelola JPM. Mereka punya cara sendiri untuk memberi efek jera.

"Kemudian oleh pengelola untuk buat efek jera diduga pelaku diarak mengelilingi JPM dengan mengalungi tulisan 'saya copet'," tutur Dhimas. Setelah prosesi itu selesai, pelaku akhirnya dipulangkan.

Lantas, kenapa polisi tidak ikut campur lebih jauh? Ternyata, korban sendiri memilih untuk tidak melaporkan kasus ini secara resmi. Alasannya sederhana: dia sudah mendapatkan kembali ponselnya dan harus buru-buru mengejar kereta untuk pulang kampung.

"Karena korban tidak mau membuat laporan polisi dan terburu-buru naik kereta untuk pulang kampung. Selanjutnya, barang bukti diserahkan kembali ke korban dan selanjutnya diduga pelaku dibawa ke kantor pengelola," kata Dhimas menutup penjelasannya.

Jadi, kasus pun berakhir di sana. Tanpa proses hukum lebih lanjut, hanya dengan sebuah parade rasa malu di sekitar stasiun yang tak pernah sepi.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar