Marina Budiman masih saja bertengger di puncak. Posisinya sebagai perempuan terkaya di Indonesia tampaknya belum tergoyahkan, meski nilai kekayaannya sendiri naik-turun seperti gelombang.
Menurut pantauan Forbes The Real-Time Billionaires List pada Selasa (21/4) pagi, kekayaan bersihnya tercatat US$6,1 miliar. Kalau dirupiahkan dengan kurs Rp17.200, angkanya fantastis: sekitar Rp104,92 triliun.
Perempuan 64 tahun ini tak lain adalah salah satu pendiri dan Presiden Komisaris PT DCI Indonesia Tbk. (DCII). Bisnis data center-nya melesat kencang, seiring derasnya transformasi digital di negeri ini. Itulah yang jadi motor utama kekayaannya.
Jalan karirnya sendiri cukup menarik. Marina adalah lulusan University of Toronto. Awal mula, dia bekerja sebagai account officer di Bank Bali. Nah, di sinilah cerita dimulai.
Di bank itulah dia pertama kali bertemu dengan Otto Toto Sugiri. Pertemuan itu rupanya jadi awal dari sebuah kolaborasi panjang. Bersama, mereka mulai mengincar peluang di sektor teknologi yang waktu itu masih seperti lahan tak bertuan.
Mereka sempat satu tim di PT Sigma Cipta Caraka, perusahaan yang didirikan Otto. Marina berkarier di sana sebagai manajer proyek dari 1989 sampai 2000. Tapi, ambisi mereka lebih besar dari itu.
Pada 1994, mereka memberanikan diri merintis PT Indointernet Tbk., yang sekarang kita kenal sebagai Indonet (EDGE). Perusahaan ini tercatat sebagai penyedia layanan internet pertama di Indonesia. Sebuah terobosan.
Lonjakan valuasi perusahaan-perusahaan yang mereka rintis dalam beberapa tahun terakhir inilah yang mendongkrak kekayaan Marina. Semuanya berawal dari kerja sama tiga sekawan: Marina, Otto, dan Han Arming Hanafia, yang mendirikan DCI Indonesia pada 2011.
Geliat teknologi yang makin menjadi-jadi akhirnya membawa DCI Indonesia go public di BEI awal Januari 2021. Hanya selang sebulan, Indonet pun menyusul mencatatkan sahamnya.
Saat ini, Marina memegang kendali 22,51% saham DCII, atau setara dengan 536,50 juta lembar. Posisi eksekutifnya pun sudah bergeser dari Presiden Direktur menjadi Presiden Komisaris sejak 2016.
Di sisi lain, dominasi DCII di pasar data center Indonesia masih sangat kuat. Perusahaan ini menguasai lebih dari 50% pasar dengan kapasitas terpasang 128 megawatt (MW) di penghujung 2025. Bandingkan dengan 2021 yang hanya 58 MW. Peningkatannya signifikan dari tahun ke tahun.
Dari segi kinerja keuangan, DCII juga konsisten menunjukkan pertumbuhan ganda. Laporan keuangan 2025 mencatat pendapatan Rp2,54 triliun, melonjak 40,14% dari tahun sebelumnya. Mayoritas, sekitar Rp2,35 triliun, bersumber dari layanan colocation atau penyewaan data center.
Memang, seiring pendapatan yang membesar, beban pokoknya juga naik ke angka Rp1,16 triliun. Tapi setelah semua kewajiban dibayar, laba bersih yang bisa diatribusikan ke pemilik entitas induk tetap menggembirakan: Rp1 triliun. Itu artinya tumbuh 25,72% year-on-year.
Jadi, meski angka kekayaannya fluktuatif, posisi Marina di puncak tampaknya masih kokoh untuk sementara. Bisnis data center-nya masih punya ruang untuk terus berkembang, mengikuti laju digitalisasi yang tak tampak akan melambat.
Artikel Terkait
BPK Ungkap Upaya Penyelamatan Keuangan Negara Capai Rp42,87 Triliun
Wamenkum HAM: UU KUHP Baru Utamakan Hukuman Non-Penjara untuk Hindari Stigma
Inspirasi Caption Media Sosial untuk Semarakkan Peringatan Hari Kartini 2026
Pengendara Motor Tewas dalam Kecelakaan Tunggal di Megamendung