Etihad Stadium, Minggu malam, jadi saksi pahitnya kekalahan Arsenal. Lawan tuan rumah Manchester City, The Gunners tumbang dengan skor 1-2. Hasil ini tentu saja pukulan telak bagi impian juara mereka.
Mikel Arteta, sang manajer Arsenal, tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Wajahnya mencerminkan perasaan campur aduk usai laga. Menurutnya, timnya sebenarnya bisa memberikan perlawanan yang lebih sengit. Sayangnya, mereka kurang tajam di momen-momen krusial. Dua kali bola membentur tiang, seolah menggambarkan betapa nasib tak berpihak pada mereka hari itu.
"Saya kesal, tentu saja," ujar Arteta dengan nada datar namun tegas.
"Kami datang ke sini untuk menang. Persiapan kami selama tiga hari terakhir punya satu tujuan itu. Kami bermain di area yang kami yakini bisa membawa kemenangan."
Ia mengakui, meski sempat tertinggal dan harus berjuang mengatasi tekanan psikologis, pemainnya bangkit. Hanya saja, City lebih dingin dan efektif dalam memanfaatkan peluang. "Mereka lebih klinis hari ini," imbuhnya.
Di sisi lain, Arteta menolak pesimisme. Suaranya kembali mengeras ketika menyentuh soal perburuan gelar. Ia masih yakin Arsenal punya modal untuk juara.
"Saya percaya karena saya melihat kerja keras mereka setiap hari. Saya tahu level tim ini. Kalau pun butuh pengingat, justru sekarang mereka harus lebih percaya diri," tegasnya.
Memang, peta persaingan jadi lebih rumit. Kekalahan ini membuat Arsenal tertahan di 70 poin dari 33 laga. City, sang pesaing utama, mengumpulkan 67 poin tapi masih punya satu laga cadangan. Arteta memilih melihat gelas itu setengah penuh. Keunggulan tiga poin dengan lima laga tersisa adalah modal yang berharga.
"Kami sudah bicarakan ini di ruang ganti. Ini seperti liga baru sekarang. Mereka punya satu game di tangan, kami punya keunggulan poin. Semua masih mungkin," bebernya dengan penuh keyakinan.
Pesan terakhirnya jelas: perjuangan belum berakhir. "Sekarang kami tahu seberapa besar keinginan kami. Kami takkan berhenti. Kami akan terus bertarung, itu sudah pasti," papar Arteta, menutup pernyataannya dengan tekad yang membara.
Lima pertandingan tersisa akan menentukan segalanya. Tekanan kini ada di pundak kedua tim. Yang jelas, drama perebutan titel Premier League masih panjang ceritanya.
Artikel Terkait
Ketua Golkar Maluku Tenggara Tewas Ditikam di Bandara Langgur
Dominik Szoboszlai Alami Musim Tanpa Gelar Pertama dalam Karier Setelah Liverpool Tersingkir
PIS Perkuat Ekspansi Global dengan Mitra Ketiga, Pertahankan Dominasi Pelaut Indonesia
IDF Selidiki Prajurit yang Hancurkan Patung Yesus di Lebanon Selatan