Guru Silat di Serang Diduga Perkosa 11 Anak Didik dengan Modus Ritual Mistis

- Senin, 20 April 2026 | 16:45 WIB
Guru Silat di Serang Diduga Perkosa 11 Anak Didik dengan Modus Ritual Mistis

Kasus guru silat di Waringinkurung, Serang, ternyata jauh lebih kelam dari yang sempat dibayangkan. Korban terus bertambah. Polda Banten kini mencatat, sudah ada sebelas anak di bawah umur yang menjadi korban pelecehan dan pemerkosaan oleh pelaku berinisial MY (54).

“Hingga saat ini, tercatat terdapat 11 anak di bawah umur yang menjadi korban. Banyak di antaranya mengalami trauma psikologis yang mendalam,” jelas AKBP Irene Missy dari Ditreskrimum Polda Banten, Senin lalu.

Menurutnya, kasus mengerikan ini sudah berlangsung lama. Rentang waktunya hampir tiga tahun, mulai Mei 2023 hingga April 2026.

MY memanfaatkan posisinya sebagai pelatih silat sepenuhnya. Ia punya modus yang licik, mengatasnamakan hal-hal mistis untuk memperdaya korbannya. Ritual pembersihan badan dan aura jadi dalih yang sering dipakai.

“Atau dengan alasan pengobatan. Korban diminta melepas pakaian untuk pemandian atau pijat,” ujar Irene.

Tak cuma itu. Pelaku juga kerap menyebut ‘perintah buyut’ sebagai senjata ampuh untuk memanipulasi dan memaksa para korban. Dengan cara itu, keinginan tak senonohnya seolah punya dasar yang tak bisa dibantah.

Rumah MY sendiri dijadikan padepokan latihan. Setiap Minggu, anak-anak dari kampung sekitar biasa berlatih di sana. Suasana keakraban dan kepercayaan itu justru disalahgunakannya.

“Sebelum persetubuhan, yang bersangkutan diiming-imingi mendapat ilmu lebih baik dan akan dimandikan kembang,” papar Kabid Humas Polda Banten, Kombes Maruli Achiles Hutapea, dalam kesempatan terpisah.

Setelah ritual mandi kembang itu, korban dibawa ke sebuah kamar. Di sanalah aksi bejatnya dilakukan.

Yang membuat hati miris, salah satu korbannya adalah keponakan MY sendiri. Gadis berusia 19 tahun itu, yang juga tetangga dekatnya, tak luput dari kebuasan sang paman.

Kisah ini meninggalkan luka yang dalam. Sebelas korban, dan mungkin lebih, kini harus berjuang melawan trauma. Sementara masyarakat sekitar dibuat tercengang oleh kenyataan pahit di balik padepokan silat yang mereka kira biasa saja.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar